Wednesday, 18 March 2020

Perjalanan Mengubah Perilaku

Designed by Freepik

Suatu hari, di jam makan pagi asrama, salah satu kakak tingkat yang baru saja kembali dari praktik satu tahun bercerita dengan semangat. Dia mengatakan bahwa di semester-semester awal, bersama seorang teman asrama, ia pernah berbuat “kenakalan”. Karena kelaparan, malam itu, ketika semua teman di asrama sudah terlelap tidur, mereka turun diam-diam untuk mengambil mie instan cup di warung kejujuran. Rupanya, bentuk ketidaktaatan ini ketahuan, sehingga mereka diwajibkan untuk membersihkan kamar mandi ruang makan selama seminggu penuh.

“Tadinya, saya pikir tidak akan berat, karena kami bisa melakukannya berdua. Ternyata, maksudnya masing-masing dari kami harus membersihkannya selama seminggu penuh! Astaga! Benar-benar kapok!!” ungkapnya, berapi-api.

Dapat dimengerti arti kata “kapok” yang diungkapkan kakak tingkat itu, sebab kami sama-sama menjalani sendiri padatnya jam kegiatan di sekolah, yang tidak hanya menguras pikiran, tapi juga menuntut tenaga dan stamina yang kuat. Terbayangkan, ketika semua mahasiswa yang lain dapat pulang beristirahat, mereka masih harus berjibaku menggosok kamar mandi yang telah seharian dipakai rekan-rekannya.

Cerita kakak tingkat ini kembali mencuat ketika saya belajar tentang teori belajar Behavioristik. Psikolog dan salah satu ilmuwan di Universitas Johns Hopkins, Thomas B. Roberts, dalam pengantar pembelajaran teori behavioristik mengungkap, bahwa nyaris semua perilaku manusia merupakan hasil dari pembelajaran. Setiap perilaku yang muncul merupakan respons dari berbagai stimulus yang diterima oleh individu tersebut. Dalam konteks belajar, maka stimulus adalah segala sesuatu yang diberikan guru kepada pembelajar. Sebaliknya, respons adalah reaksi atau tanggapan pembelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru.

Punishment, atau hukuman yang dialami oleh kakak tingkat saya tadi adalah salah satu bentuk penguatan atau reinforcement yang diberikan kepada naradidik dengan tujuan untuk mengubah perilakunya. Di mana naradidik mendapat konsekuensi yang tidak menyenangkan karena melakukan sesuatu, sebagai pembelajaran agar ia tidak lagi melakukannya.

Setelah saya amati, di era saya sekarang, ada beberapa reinforcement punishment yang diterapkan sekolah, terkait kegiatan belajar dan berasrama. Di antaranya, sanksi cuci piring bagi mereka yang terlambat datang di kegiatan olah raga bersama tanpa keterangan yang jelas. Ada juga denda untuk mereka yang terlambat tiba di ruang makan di jam seharusnya (pukul 06:55 WIB untuk makan pagi, dan 18:30 WIB untuk makan malam). Mereka harus membayar denda Rp10.000 jika terlambat makan pagi dan Rp15.000 jika terlambat makan malam. Jumlah ini cukup signifikan bagi mahasiswa asrama yang bergantung pada uang bulanan dari donor, atau biaya kiriman bulanan dari orang tua. Tentu, kita tidak ingin hasil jerih payah orang yang membiayai pendidikan kita ini terbuang akibat kebodohan kita sendiri.

Namun, tidak hanya bentuk reinforcement berupa hukuman yang kami temui di sekolah. Tidak sedikit juga reinforcement positif, berupa apresiasi sebagai penambah semangat belajar. Di antaranya, apresiasi kepada mahasiswa peraih indeks prestasi kumulatif tertinggi dan kepada mahasiswa yang mengalami lonjakan nilai tertinggi. Dalam ibadah pembukaan semester, nama-nama mereka akan dipanggil ke depan untuk mendapat reinforcement sosial, berupa tepukan tangan apreatif dari seluruh civitas akademika kampus.  Tidak berhenti di situ, mereka juga akan mendapat apresiasi berupa voucher pembelian buku dengan jumlah nominal yang cukup besar. Bagi kami, mahasiswa teologia yang masih banyak bergantung pada buku-buku berbahasa Inggris yang harganya selangit, voucher buku ini menjadi sangat signifikan. Sehingga mendorong mahasiswa yang lain untuk meningkatkan prestasi belajar mereka.

Meski teori belajar dengan pendekatan behavioristik merupakan yang paling kuno, tapi hingga saat ini masih sangat dibutuhkan. Hanya saja, penerapannya memang harus lebih diperhatikan, sehingga reinforcement atau stimulus yang diberikan tidak membuat naradidik melakukan sesuatu hanya karena mendapat “apreasiasi atau hadiah”, tetapi atas kesadaran pribadi. Dalam teori behavioristik fase kesadaran personal ini disebut sebagai reinforcement intrinsik – ada dorongan kesadaran pribadi untuk melakukan hal-hal baik yang perlu dilakukan.

Menarik, bukan? Cobalah untuk membuat menerapkan teori belajar behavioristik ini untuk proyek pribadi Anda, apakah untuk mendorong perubahan positif terhadap diri sendiri, orang terdekat kita, atau komunitas kita. Tulisan ini hanyalah sekelumit saja dari contoh praktik teori behavioristik yang saya temukan di lingkungan kampus dan berasrama di sekolah saya. Untuk pemahaman yang lebih komprehensif, saya sarankan membaca beberapa buku berikut ini:

1. Roberts, Thomas B. Four Psychologies Applied To Education: Freudian, Behavioral, Humanistic, Transpersonal. Massachusetts: Schenkman, 1975.
2. Schunk, Dale, H. Learning Theories: An Educational Perspective. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012.
3. Skinner, B.F. The Technology of Teaching. New York: Meredith Corporation, 1968.

Selamat belajar dan mengalami transformasi hidup!


Tuesday, 10 March 2020

Belajar Mengenal Diri & Memahami Orang Lain Melalui Gaya Belajar


Designed by Prostooleh

Seberapa banyak dari kita yang merasa frustasi karena gagal menangkap penjelasan guru atau dosen di dalam kelas-kelas perkuliahan?

Seberapa banyak juga dari kita yang kemudian diserang oleh rasa kantuk dan bosan, karena materi perkuliahan yang sangat teoritis. Sehingga, rasanya teori-teori tersebut hanya berlaku indah di alam ideal dan kurang relevan dengan kenyataan di lapangan yang seringkali sangat berbeda?

Atau, pernahkah juga kita dibuat gagal paham, bahkan jengkel, terhadap sesama rekan kita yang sulit menyerap materi perkuliahan yang menurut kita cukup mudah untuk dipahami?

Benarlah peribahasa ini: tak kenal, maka tak sayang. Inti persoalan sekaligus solusi dari berbagai pertanyaan di atas dapat kita temukan saat kita memiliki pengenalan dan pemahaman yang baik terhadap gaya belajar kita.

Ketika kita mengenal dengan baik gaya belajar kita, maka kita dapat menemukan sendiri kiat-kiat belajar yang memudahkan kita dalam menyerap suatu materi pembelajaran yang baru secara lebih efisien dan efektif. Lebih dari itu, kita juga menjadi pribadi yang dapat menerima dan menghargai perbedaan gaya belajar rekan-rekan kita yang lain, sehingga tidak dengan mudah menjatuhkan penilaian berdasarkan asumsi pribadi. Sebaliknya, dengan perbedaan yang ada kita justru bisa saling mengisi dan membantu dalam proses pembelajaran. Sehingga, tak ada rekan kita yang tertinggal.

Ada beragam perangkat analisis yang dapat kita gunakan untuk mengenal gaya belajar kita. Salah satunya, melalui pendekatan Learning Style Inventory (LSI) yang dikaji oleh David Kolb. David Kolb (1939) adalah seorang profesor dan pendidik dengan spesialisasi di bidang Experiential Learning, perubahan individu dan sosial, serta pengembangan karier dan pendidikan profesional. Dia juga pendiri dan ketua Experience Based Learning Systems (EBLS) yang terkenal dengan teori Gaya Belajarnya. Dalam pemahaman Experiential Learning, maka faktor garis keturunan, dan pengalaman hidup tertentu turut membentuk gaya belajar yang menjadi preferensi dari suatu individu. Pengalaman menjadi media belajar.

"Experiential learning posits that learning is the major determinant of human development and how individuals learn shapes the course of their personal development" David Kolb. (source: toolshero.com) 

Pembelajaran berdasarkan pengalaman menyatakan bahwa belajar adalah penentu utama perkembangan manusia, dan bagaimana individu belajar membentuk arah perkembangan pribadi mereka. Dengan kata lain, kegagalan memahami gaya belajar kita akan membuat kita tidak dapat memaksimalkan segenap potensi yang ada dalam diri kita secara optimal. Sayang sekali, bukan?

Kolb menginventariskan gaya belajar ke dalam empat proses pembelajaran, yaitu Concrete Experience (CE) yang menekankan pada pengalaman dalam keterlibatan secara langsung, Reflective Observation (RO) yang menekankan pada pengamatan secara detail dan deskripsi yang rinci, Abstract Conceptualization (AC) yang menekankan pada penggunaan logika, ide, dan konsep, serta Active Experimentation (AE) yang menekankan pada kekuatan pengaruh dalam membuat suatu perubahan. Anda bisa mempelajari lebih dalam ciri khas dari masing-masing gaya belajar ini dengan meng-klik tautan berikut: The Learning Style Inventory.

Menggunakan perangkat tes sederhana yang tersedia secara online, saya berusaha mencari tahu seperti apa gaya belajar saya. Meski tidak sekomprehensif tes lengkap David Kolb yang berbayar, setidaknya cara ini menjadi langkah awal yang sangat membantu proses pengenalan terhadap salah satu aspek yang cukup penting dalam diri saya. Klik tautan ini untuk mencari tahu: Apa gaya belajar Anda?

Tes ini meliputi pemberian skor (dari 1 sampai 4) berdasarkan pada tingkat preferensi kita terhadap 4 set pernyataan, dengan masing-masing set terdiri dari 10 pernyataan pendek. Skor 1 untuk pernyataan yang paling tidak sesuai dengan preferensi kita, hingga skor 4 untuk pernyataan yang paling sesuai dengan preferensi kita. Total skor dari masing-masing set ini akan menggambarkan seperti apakah gaya belajar kita, dan seperti apa kita menghubungkan antara kemampuan kita menyerap ilmu dengan praktiknya.

Hasilnya cukup mencerahkan! Setelah menghabiskan waktu sekitar 30-an menit (dari alokasi waktu yang disarankan, yaitu 30-45 menit), saya mendapati bahwa skor tertinggi saya (40) adalah tipe Concrete Experience (CE), dengan pengaruh signifikan dari tipe Reflective Observation (RO) yang memperoleh skor 36. Apa artinya?


© concept david kolb, adaptation and design alan chapman 2005-06, based on Kolb's learning styles, 1984


Mari kita bersama-sama menyimak bagan konsep Gaya Belajar David Kolb di atas untuk dapat membaca/mengiterpretasikan hasil gaya belajar kita. Bagan ini menampilkan dua sumbu, yaitu sumbu horizontal yang mewakili “Bagaimana Cara Kita Melakukan Sesuatu”, dan sumbu vertikal yang mewakili “Bagaimana Cara Kita Berpikir Tentang Sesuatu”. Apabila ditarik garis koordinat, maka dengan nilai skor 40 untuk CE dan 36 untuk RO, maka gaya belajar saya yang dominan berada di kuadran “Diverging” (perhatikan gambar diagram di bawah ini).


source: med.fau.edu


Menurut Kolb, dalam bukunya Experiential Learning: Experience as the source of learning and development, mereka yang memiliki gaya belajar dominan di kuadran “Diverging” dapat belajar secara maksimal dengan menggabungkan kekuatan perasaan (feeling) dan pengamatan (watching). Orang-orang tipe “Diverging” ini dikatakan unggul dalam kemampuan imajinasi dan melihat situasi kongkret dari banyak sudut pandang yang berbeda, kemudian menghubungkannya menjadi sesuatu yang bulat dan utuh. Mereka menyukai tugas belajar yang menuntutnya untuk menghasilkan ide-ide dan gemar mengumpulkan berbagai informasi. Mereka juga menggemari topik dan isu seputar kesusastraan, budaya, sejarah, dan ilmu-ilmu sosial lainnya. “Why?” menjadi pertanyaan favorit orang dengan gaya belajar tipe “Diverging”.

Dalam refleksi saya, hasil assessment atau penilaian pribadi ini membawa saya pada sebuah kesadaran yang lebih jernih tentang aspek pribadi yang belum saya pahami sebelumnya. Pemahaman ini memberikan latar belakang yang cukup komprehensif tentang bagaimana cara pandang saya saat melihat suatu masalah atau situasi, cara saya mempersepsi sesuatu hal, dan menanggapi berbagai stimulus dari dalam maupun dari luar dalam proses pembelajaran.

Pemahaman terhadap gaya belajar saya ini membantu saya untuk menghubungkan titik-titik krusial dalam perjalanan hidup saya. Bagaimana sejak kecil saya sangat tertarik dengan segala hal yang mengutamakan kerja imajinasi. Saat usia 6 tahun, saya gemar membuat kerajinan tangan berupa karakter-karakter tokoh dalam dongeng yang saya baca. Saking banyaknya, ayah saya membuat sebuah “pameran kecil” dengan mengundang teman-teman bermain saya di sekeliling rumah. Bahkan, ayah membagikan tiket kertas kecil sebagai tanda masuk bagi mereka…Lucu sekali, saat mengenang kembali masa ini, bagaimana teman-teman saya dengan sangat antusias mencari tahu cerita di balik benda kerajinan tangan yang saya buat.

Kegemaran saya pada dunia literasi juga tumbuh sejak usia dini. Sejak bangku SD saya gemar mengamati segala sesuatu di sekitar saya dan menuangkannya dalam bentuk tulisan, seperti cerita pendek, atau puisi. Bahkan, saat saya duduk di kelas 4 SD saya pernah membuat koran sendiri dengan menyadur kumpulan berita pendek menarik “Kilasan Kawat Sedunia” dari Koran Kompas, yang kemudian saya fotokopi dan bagikan ke rumah-rumah tetangga. Untungnya, “koran” saya “laku” dan disambut baik oleh para ibu dan bapak di lingkungan sekitar rumah. Hahahaha…


Designed by Freepik


Kedua orang tua saya suka membaca, mungkin hal ini juga yang mendorong saya dan kakak saya suka membaca. Sejak duduk di bangku SD saya sudah membaca karya-karya literatur yang cukup berat, seperti antologi karya sastrawan asal Rusia, seperti Anton Chekov dan Nikolai Gogol, karya-karya sastrawan dan kritikus sosial asal Inggris Charles Dickens, atau novel karya Romo Mangun Wijaya, seorang pemimpin agama Katolik sekaligus sastrawan dan budayawan dari Yogyakarta. Buku roman Burung-Burung Manyar karya Romo Mangun, menjadi salah satu bacaan “dongeng” sebelum tidur – selain cergam Tintin – yang biasa dibacakan ayah. Namun, dari cergam Tintinlah sejak kecil saya terinspirasi untuk menjadi seorang jurnalis – sebuah pilihan profesi yang saya tekuni selama 14 tahun, sebelum saya meresponi panggilan sebagai pelayan fulltimer dengan kembali ke bangku kuliah, mengambil magister pendidikan di salah satu sekolah tinggi teologi di tanah air. Dari tes ini juga saya baru tahu jika jurnalis termasuk salah satu dari sederetan jenis profesi yang banyak mengandalkan gaya belajar tipe “Diverging”.

Kegemaran saya untuk melakukan observasi biasanya berlanjut dengan sebuah pertanyaan “Mengapa?” di kepala. Pertanyaan inilah yang dalam permenungan saya berkembang menjadi tulisan-tulisan reflektif pribadi yang juga bisa dibaca dalam blog ini. Saya percaya, bahwa segala sesuatu yang diizinkan Tuhan hadir atau melintas dalam kehidupan kita adalah materi pembelajaran yang layak disimak. Apakah itu obrolan kecil antara sopir bus angkutan umum dan kondekturnya yang membuat saya belajar tentang arti mencintai, celetukan polos sopir bajaj tentang dilema rakyat kecil di tengah gempita panggung perpolitikan yang kaya intrik dan konflik kepentingan, dan banyak lagi lainnya.

Observasi juga melatih saya untuk tidak cepat mengambil sebuah kesimpulan. Setidaknya, saya akan melakukan riset kecil untuk menguji asumsi saya. Apakah itu dengan membuka kuis kecil-kecilan melalui media sosial saya untuk mengetahui apa pendapat orang tentang suatu topik, atau melakukan riset literatur secara online dari sumber-sumber yang terpercaya. Melalui cara ini, saya belajar untuk memandang suatu masalah atau isu dari berbagai sudut pandang. Sehingga, cakrawala pandang saya pun tidak menjadi sempit.

Bicara tentang riset kecil-kecilan, dalam sebuah observasi, saya ingin mengetahui alasan mengapa orang lebih suka mengenakan jam tangan di tangan kiri. Bagi pengguna jam tangan di tangan kanan seperti saya, fenomena ini membuat saya penasaran. Saya pun membuat survei kecil-kecilan dengan menghitung penumpang Transjakarta yang menggunakan jam di tangan kanan dan di tangan kiri. Seperti dugaan, hanya sekitar 5% saja dari mereka yang menggunakan jam di tangan kanan, termasuk saya. Hasil ini kemudian saya lemparkan di status media sosial untuk mendapatkan tanggapan dari teman-teman saya. Di luar dugaan, banyak yang merespons, bahkan membukakan beberapa jawaban unik. Salah satunya, bahwa di era orde baru (orba), menggunakan jam tangan di tangan kanan menjadi simbol “perlawanan” terhadap rezim orba di kalangan militer. Jadi, bukan sekadar alasan kepraktisan atau higienis saja, tapi juga ada unsur politiknya. Astaga!

Menarik bukan, memahami betapa jauh gaya belajar berpengaruh pada cara berpikir dan cara kita meresponi segala sesuatu?

Dulu, saya tidak tahu bahwa ada latar belakang teori yang membangun gaya belajar saya, dan bagaimana gaya belajar tersebut berperan dalam perkembangan personalitas saya. Kini, dengan memahami gaya belajar melalui pendekatan Learning Style Inventory dari David Kolb, saya dapat belajar untuk lebih optimal dalam mengeksplorasi diri. Saya juga dapat belajar menumbuhkan stimulus dari dalam diri yang mampu merangsang kerja kognitif, afektif, dan psikomotorik saya dalam proses belajar. Ke depannya, pemahaman dan aplikasi yang tepat terhadap gaya belajar dari David Kolb ini dapat membantu saya sebagai seorang pendidik untuk memahami murid-murid saya, dan mendorong saya untuk mendesain strategi pembelajaran yang terbaik baik mereka. Ini adalah doa saya, Amin.

“Pengenalan yang baik terhadap diri dapat membantu kita memahami serta meresponi lingkungan di luar diri kita dengan lebih baik. Menghindarkan kita dari kesalahpahaman, serta sikap mudah menghakimi seseorang hanya dengan menilai apa yang terlihat di permukaan. Sebab, apa yang terlihat, belum tentu mewakili kebenaran.”

Wednesday, 12 February 2020

Menabur Pertanyaan Menuai Jawaban: Sebuah Refleksi Pembelajaran


<a href="https://www.freepik.com/free-photos-vectors/background">Background photo created by freepik - www.freepik.com</a>
Jadilah tanah yang subur untuk ditanami


Sebagai mahasiswi teologia dengan latar belakang pendidikan pertanian, saya selalu tertarik dengan berbagai perumpamaan yang dipakai Yesus untuk mengajar orang banyak dan murid-murid-Nya. Salah satunya yang cukup terkenal dan berkesan bagi saya adalah perumpamaan penabur.

Rasanya menyenangkan, membayangkan saya ikut duduk di tepi Danau Galilea, bersama orang banyak dan para murid, mendengarkan Yesus mengajar dari atas perahu yang ditambatkan di situ. Aliran angin sejuk dari danau seketika meredakan sengatan Matahari dan menghapus kepenatan. Dilatari suara riak ombak dan kicau burung, Yesus pun mulai mengajar:

"Dengarlah! Adalah seorang penabur keluar untuk menabur.

Pada waktu ia menabur sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis.

Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tipis.

Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar.

Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati, sehingga ia tidak berbuah.

Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, ia tumbuh dengan suburnya dan berbuah, hasilnya ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang seratus kali lipat."

Dan kata-Nya: "Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!"

Seperti umumnya perkuliahan atau pembelajaran di kelas, keaktifan murid bertanya menjadi salah satu ukuran sejauh mana seseorang ingin belajar. Jelas, bahwa Yesus tengah mengajar mereka dengan menggunakan metode perumpamaan, yang bisa ditafsirkan secara beragam sesuai dengan konteks kehidupan pribadi lepas pribadi. Mereka yang cukup puas dengan hasil permenungan pribadi ini akan pulang tanpa merasa perlu untuk bertanya lebih dalam. Mereka yang tidak paham dan tidak mau ambil pusing pun akan segera beranjak pergi. Namun, sebagian lainnya yang ingin belajar lebih dalam, tetap tinggal. Terhitung di antara kelompok yang terakhir ini adalah murid-murid Yesus. “Guru, apa arti perumpamaan itu?”

Saya yakin, selama mendengarkan Yesus mengajar, para murid melakukan usaha interpretasi, melihat hubungan di antara komponen-komponen dari perumpamaan yang disampaikan Sang Guru. Mereka bisa melihat hubungan antara benih dengan kondisi tanah, benih dengan unsur pengganggu, seperti burung dan semak berduri, dan bagaimana semua relasi antar komponen itu memberikan hasil yang berbeda. Hanya saja, mereka kesulitan untuk mengaitkan semua komponen tadi dan menarik kesimpulan yang berlaku dalam kontekstual kehidupan.

Awalnya, saya heran, mengapa Yesus harus menunggu para murid untuk bertanya? Mengapa tidak dari awal saja Ia menjabarkan arti dari perumpamaan tersebut? Dalam refleksi inilah saya belajar bahwa ada kalanya seorang guru memberikan ruang bebas untuk menguji kesungguhan seorang murid untuk berusaha menggali pengetahuan dan pemahaman lebih dalam lagi.

Di momen refleksi inilah saya teringat pada pernyataan Yesus di injil Matius 7:7-8 – “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.”

Pencarian para murid terhadap arti di balik perumpamaan yang diajarkan oleh Yesus itu membuahkan pemahaman yang benar, komprehensif, mencerahkan, dan mengubahkan.

Pemahaman yang benar – sebab dengan bertanya, mereka mengetahui bahwa penabur dalam perumpamaan tersebut sedang menaburkan benih yang adalah firman.

Komprehensif – sebab Yesus kemudian menjelaskan setiap perumpamaan dengan gamblang dan mendalam, bahwa orang-orang yang di pinggir jalan, tempat firman itu ditaburkan, ialah mereka yang mendengar firman, lalu datanglah Iblis dan mengambil firman yang baru ditaburkan di dalam mereka.

Demikian juga yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu, ialah orang-orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira, tetapi mereka tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila kemudian datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, mereka segera murtad.

Dan yang lain ialah yang ditaburkan di tengah semak duri, itulah yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah.

Dan akhirnya yang ditaburkan di tanah yang baik, ialah orang yang mendengar dan menyambut firman itu lalu berbuah, ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat.

Mencerahkan – sebab, penjelasan Yesus yang komprehensif ini membukakan wawasan baru kepada murid-murid-Nya tentang bagaimana natur indvidu dalam meresponi firman, dan konsekuensinya dari masing-masing respons tersebut.

Mengubahkan – Saya yakin, para murid dan setiap orang yang mendengar dan mengkontemplasikan pengajaran Yesus ini terpanggil untuk mengambil sikap hidup atau respons yang benar, yaitu menjadi bagian dari benih yang ditabur di tanah yang subur dan membuahkan hasil panenan yang berlipat ganda.

Kembali kepada kehidupan sehari-hari, saya percaya bahwa segala sesuatu yang diizinkan Tuhan mampir dalam kehidupan kita sejatinya merupakan materi pembelajaran hidup. Saya membayangkan Tuhan dengan cermat dan teliti merancang sebuah kurikulum pembelajaran bagi setiap anak-Nya, masing-masing sesuai dengan keunikan karakter dan kesanggupan mereka.

Dalam pertimbangan hikmat-Nya, setiap materi pembelajaran hidup tersebut telah melalui proses seleksi ketat dan terukur, pas dengan takaran Anda dan saya. Alih-alih berhenti pada pertanyaan menggugat "Why God, why?", kita mulai belajar untuk bertanya, "What do you want me to learn, God?" Pertanyaannya lagi adalah, "Maukah kita belajar?" 

Monday, 27 January 2020

Menjadi Pembelajar di Era Post Truth, Sebuah Refleksi




"Sebodoh-bodohnya keledai, ia tidak akan jatuh dua kali ke dalam lubang yang sama." 

Kita tentu akrab dengan peribahasa di atas. Jika keledai yang bodoh saja bisa belajar untuk tidak mengulang kesalahan yang sama, terlebih manusia yang dikaruniai akal dan budi. Apakah pendapat ini sepenuhnya benar? Menurut saya, permasalahan terbesar kita sebagai manusia sebenarnya tidak terletak pada kecakapan kognitif kita, tetapi pada rendahnya keinginan untuk belajar.

Belajar tidak berhenti pada tahapan tahu. Terkait dengan perumpamaan di atas, maka belajar tidak cukup pada tahu bahwa ada lubang yang harus dihindari. Tetapi, paham mengapa lubang tersebut harus dihindari, dan apa konsekuensinya jika kita terjatuh dua kali ke dalamnya? Belajar hampir selalu mengharuskan kita untuk melihat lebih dalam dan lebih detail lagi. 

Dalam pemahaman yang lebih dalam, belajar merupakan proses berkelanjutan yang dilakukan secara sengaja untuk memperoleh pengetahuan, kecakapan, dan pengalaman baru ke arah yang lebih baik, termasuk di dalamnya tidak mengulang kesalahan yang sama. Jadi, di dalam proses belajar ada transformasi hidup. Setidaknya, demikianlah definisi belajar yang saya sarikan dari gabungan pendapat beberapa pemikir pendidikan, seperti Suryabrata (1991) dan Witherington (1952).

Pertanyaannya, apa yang membuat orang malas belajar? Disadari atau tidak, pengaruh budaya serba instan telah membangun pola berpikir dan bertindak yang serba cepat juga. Ini yang membuat orang tidak terlalu suka, atau bahkan mengabaikan proses. Dari sudut pandang teori pembelajaran menurut Noel Burch, belajar adalah tahapan dari kita yang awalnya tidak sadar dan tidak tahu, menjadi sadar bahwa kita tidak tahu, kemudian menjadi tahu dan paham bagaimana mengaplikasikan atau mendaratkan pengetahuan tersebut di dalam konteks kehidupan, hingga akhirnya dapat menguasai suatu topik atau kompetensi tersebut dan mampu meneruskannya kepada orang lain.

Tentu proses belajar seperti di atas membutuhkan waktu. Masalahnya, budaya instan membuat orang tidak sabar, dan memutuskan untuk puas dengan "sekadar tahu". Alhasil, banyak orang terjebak dalam berbagai asumsi subjektif tak berdasar saat menyikapi sesuatu. Celakanya lagi, berbekal pengetahuan yang hanya bersifat permukaan ini, seseorang berani mengambil suatu keputusan penting.

Budaya berpikir instan ini tumbuh subur di era media sosial seperti sekarang. Orang saling berlomba menjadi yang pertama dalam berpendapat. Tidak jarang, lontaran reaksi dan opini ini hanya dipicu oleh sebaris status orang tak dikenal, tanpa tahu duduk permasalahan yang sesungguhnya. Sama seperti orang yang berkomentar ngawur tanpa konteks tentang suatu topik hanya berbekal membaca tajuk pemberitaan.

Parahnya lagi, oleh dukungan netizen yang menjadi follower setia, suatu opini yang tidak jelas objektivitasnya ini bisa menjadi viral dan memengaruhi opini publik. Tidak heran, jika dalam kondisi seperti ini kebenaran menjadi sangat relatif, bergantung pada kelompok pendukung yang mana. Kita mengenalnya dengan istilah post truth.

Mereka yang enggan belajar akan mudah diombang-ambingkan berbagai angin pengajaran, baik yang ekstrem kanan ataupun ekstrem kiri. Akibatnya, sulit bagi mereka untuk menentukan mana yang baik atau tidak baik, dan mana yang bermanfaat bagi kemaslahatan bersama, atau yang justru membawa menuju kehancuran. 

Sebagai seorang pembelajar, kita harus mengembangkan budaya berpikir kritis dan ilmiah, yang memahami, dan menguji berbagai isu yang sedang berkembang di tengah lingkungan sosial dan masyarakat. Hal ini sulit terpenuhi jika kita tidak terlebih dahulu diisi dan mengisi diri dengan berbagai materi pembelajaran terkait. Apakah itu melalui buku-buku, kuliah umum, pemberitaan media massa terpercaya, maupun dari hasil forum diskusi yang ada. 

Namun, hanya mengandalkan kognisi tanpa afeksi juga akan membawa seseorang pada hasil pembelajaran yang timpang. Di era post truth yang hanya mementingkan ego kelompok seperti sekarang, sisi afeksi ini bisa ditumbuhkan melalui sebuah kesadaran bahwa ada kontrak sosial dalam kehidupan kita, di mana kita saling berbagi ruang hidup, ruang publik, ruang berpendapat, ruang ekspresi, dan banyak lagi. Kesadaran hidup berkomunitas ini yang membuat kita dapat saling menghargai dan menghormati dalam keberagaman.  

Semua ini lagi-lagi berujung pada proses yang dalam dinamikanya bisa memunculkan banyak tantangan. Bagaimanapun, sebagai seorang pembelajar, kita dituntut untuk setia di dalamnya. Mendorong diri untuk terus belajar dalam mentalitas bahwa kita “belum mencapai garis final” dalam pembelajaran kehidupan ini. Namun, di antara semua itu, seorang pembelajar harus dapat membawa pembelajarannya ke dalam konteks kehidupan sehari-hari. Sebab, hanya dengan melakukan apa yang ia pelajari, transformasi bisa terjadi.



Friday, 7 December 2018

Karena Nila Setitik, Rusak Susu Sebelanga

Foto: Pixabay



Ketika kesalahan membuat manusia berhenti memandang ke masa depan dan kehilangan kesempatan brilian.


Pada sebuah kesempatan wawancara dengan salah seorang narasumber, beliau berulang kali mengutip perumpamaan “Karena nila setitik, rusak susu sebelanga.” Beliau mengakhirinya dengan tawa terbahak, yang membuat saya kehilangan konteks terhadap arti ucapannya. Benarkah kemalangan orang yang harus menanggung hukuman sosial seumur hidupnya itu layak mendapat tertawaan yang sedemikian rupa?  

Anyway…Di siang Jakarta yang menyengat, ungkapan ini kembali terngiang di kepala bersama peribahasa lain: “Sekali jatuh lancung ke ujian.” Pertama kali mendengarnya, dalam pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dulu, saya sempat berpikir…Betapa tidak pemaafnya manusia. Namun, begitulah hukum komunal berlaku. Mau tidak mau, harus mau dan terima saja. Benarkah ini satu-satunya opsi?

Permenungan saya berujung pada kisah pelantikan masa jabatan kedua Presiden Abraham Lincoln di bulan Maret 1856. Bersamaan dengan upacara pengambilan sumpah jabatan, Wakil Presiden Andrew Johnson sedang sakit demam typhoid.

Demi meredam rasa menggigil tubuhnya, Andrew minum whiskey. Seperti larutan kecap dan jeruk nipis yang oleh masyarakat Jawa dipercaya bisa meredakan batuk, maka di dunia barat whiskey dipercaya bisa meredakan flu dan gejala panas-dingin.

Agaknya, karena ingin tubuhnya segera pulih, Andrew mengonsumsi tiga gelas besar whiskey. Ini membuatnya mabuk dan bicara ngawur dalam pidato kenegaraannya yang pertama. Sebuah kenangan sejarah yang memalukan dan sama sekali tidak membanggakan bagi Amerika, tentunya. Bagaimana mungkin seseorang seperti Abraham Lincoln memilih wakil presiden Amerika Serikat seperti itu?

Peristiwa ini membuat protes mengalir deras kepada Presiden Lincoln. Dalam posisi mereka, saya pun akan melakukan protes keras yang sama. Namun, dalam keterkejutan saya, demikian Lincoln memberikan sikapnya:

“I have known Andy Johnson for many years. He made a bad slip the other day, but you need not be scared. Andy ain’t a drunkard,” ungkap Abraham Lincoln saat itu.

Sampai pada kejadian itu, fokus saya hanya tertuju pada ucapan Lincoln. Terutama, pada kalimat yang mengatakan, bahwa ia telah mengenal Andrew Johnson sejak bertahun-tahun lamanya. Penilaiannya terhadap sang wakil presiden tidak berhenti pada waktu Andrew melakukan kesalahan fatal. Lincoln bersedia melihat sosok Andrew secara menyeluruh. Ia memberikan kesempatan pada Andrew untuk memperbaikinya.

“Good employees make mistakes. Great leaders allow them to”. Ungkapan yang menjadi tajuk dari sebuah artikel bisnis di Forbes.com ini juga ikut menggambarkan karakter Abraham Lincoln sebagai sosok pemimpin besar di sepanjang sejarah Amerika Serikat.

Meski di kemudian hari, setelah Lincoln dibunuh (sekitar sebulan setelah inagurasi), Andrew Johnson, yang kala itu menggantikan posisi Lincoln sebagai presiden, kembali mengulang dan bahkan membuat banyak kesalahan lainnya dengan pidato-pidatonya yang rasis. Dalam hal ini pun kita harus paham bahwa sekali melakukan sebuah kesalahan tidak mengapa, tapi lain halnya jika kita kembali mengulangi kesalahan yang sama. Ketika kita mengulang kesalahan yang sama untuk kali kedua, maka kita sudah 100 persen paham dengan konsekuensi yang harus kita hadapi.

Bagaimanapun, kesalahan menjadi cara terbaik yang membantu seseorang untuk belajar dan bertumbuh. Mengingat 10.000 kesalahan dan kegagalan Thomas Alfa Edison sebelum menemukan formula terbaik yang membawa terang lampu dalam keseharian kita, saya ingin menutup permenungan dengan mengutip ucapan Presiden ke-44 Amerika Serikat, Barack Obama.

"Making your mark on the world is hard…It takes patience, it takes commitment, and it comes with plenty of failures along the way. The real test is not whether you avoid this failure, because you won’t. It’s whether you let it harden or shame you into inaction, or whether you learn from it; whether you choose to persevere.” – Barack Obama.  



Jangan biarkan kesalahan-kesalahan atau kegagalan kita di masa lalu menghentikan langkah kita untuk memenuhi panggilan menjadi manusia yang lebih baik di masa depan. Jangan pula kesalahan orang lain membuat kita berhak untuk melabeli seseorang sebagai pribadi yang gagal dan lancung ke ujian.

Dalam kedinamisan karya-NYA yang melintasi segala akal dan pemahaman manusia, Sang Pencipta turut bekerja dalam segala sesuatu, baik dan buruk, untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang bersedia memperbaiki diri. Allah tidak menciptakan kita sebagai manusia gagal. Patience and perseverance, tetap bertekun dalam kesabaran, dan tatap masa depan dengan cara pandang positif dan optimis. Selamat belajar hidup, Tuhan memberkati!

Saturday, 11 February 2017

"Yak! Yakin 100 %!" Ah, yang bener...??


Teringat di suatu malam. Saat itu saya dapat jatah voucher taksi untuk pulang lembur kantor. Seperti biasa, perjalanan pulang selalu diisi cerita-cerita unik, mesteri (biasanya keluar di edisi hari Kamis malam) dan lucu dari Pak Sopir taksi berlogo burung itu. Kali ini, pilihan terakhirlah yang saya dapat dari Pak Nana. Berawal dari sebuah pertanyaan yang ditujukan pada saya.

"Sudah Mba, nggak ada yang ketinggalan?"

"Yes, Pak, aman," jawab saya pede.

"Siap, kita jalan sekarang ya, Mba," timpal Pak Nana."Maaf ya Mba, kalau saya cerewet mengingatkan," sambungnya.

Saya terkekeh. "Nggak papa lah Pak, justru membantu," jawab saya yang sudah sangat berpengalaman dengan urusan barang ketinggalan, di mana saja, dan kapan saja.

"Soalnya, pernah nih Mbak Naomi, saya mengantar salah satu produser perempuan dari stasiun TV *CT*. Tujuannya ke Bandara Soekarno Hatta. Mau ke luar negeri naik SQ. Jadwal pesawat take off jam 11 siang. Seperti biasa, saya selalu mengingatkan penumpang untuk melakukan check dan recheck, sebelum mobil meluncur.

"Ada yang kelupaan Mbak?" tanya saya.

"Nggak ada Pak," jawab si Mbak cepat, tanpa mengecek ulang.

"Coba dicek sekali lagi Mbak. Mumpum di sini," ulang saya, melihat si Mbak yang stel yakin.

"Nggak perlu Pak," kata si Mbak.

"Yakin?" tanya saya lagi.

"Ya. Nggak perlu dicek. Nggak ada yang ketinggalan. Yakin 100%," kata si Mbak, super pede.

"Entah kenapa, kok hati saya nggak sreg waktu dia bilang begitu. Tapi karena dia yakin sekali, akhirnya saya tancap gas," lanjut saya. Dalam hati saya bilang, wah, asyik juga nih si Mbak. Eh,...ternyata saya yang dibikin asyik! Pas sampai depan pintu tol masuk ke arah Bandara, tiba-tiba saya diminta menepi. 

"Eh, bentar Pak. Waduh jaket saya ketinggalan!" kata si Mbak.

"Wah, kalau cuma jaket sih, mending direlakan, karena waktu sudah mepet," saran saya. Takutnya dia ketinggalan pesawat. Apalagi untuk penerbangan internasional waktunya ketat, dua jam sebelum boarding harus ada di tempat.

"Masalahnya, tiket pesawat saya ada di kantong jaket itu Pak..." kata si Mbak panik luar biasa.

Padahal, sepanjang jalan Si Mbak sudah telepon sana-sini mengingatkan semua krunya yang ada 7 orang! Eh, ternyata, dirinya sendiri yang telat!

"Lha, Mbak-nya tadi sudah saya minta cek sampai tiga kali katanya nggak ada yang ketinggalan. Yakin 100%?" kata saya jengkel.

Akhirnya kami balik lagi ke arah rumah si Mbak produser. Setelah memperhitungkan waktu, dan jalanan Jakarta yang macet, saya putuskan untuk menurunkan si Mbak di pintu tol Semanggi. Lalu meminta dia untuk melanjutkan dengan ojek supaya lebih cepat. Saya menunggu di situ. Tidak sampai 15 menit, si Mbak sudah sampai lagi. 

Pada saya dia cerita,"Wah, gila tuh tukang ojek, jalannya udah kayak setan!"

Saya bilang sama dia, "Tadi sengaja saya suruh jalan cepat, biar Mbaknya nggak terlambat. Mending sekarang Mbak cek online saja."

**Mendengar ini, saya langsung menyela cerita Pak Nana. "Wah, Bapak hebat! Masih sempat kepikiran buat kasih saran check-in online," salut saya, sambil memberikan applause.

Dengan agak tersipu, Pak Nana merespons,"Ah, itu karena saya pernah dapat kasus serupa, dan penumpang saya itu juga check-in online agar tidak terlambat."

Cerita Pak Nana pun berlanjut...

Dari situ kami langsung tancap gas. Wah, saya sudah nggak sempat melihat speedo meter. Rasanya, saya jalan dengan kecepatan lebih dari 140 km/jam waktu itu. Akhirnya, pas jam 11 kurang 10 menit kami sampai di pintu pemberangkatan internasional. Dan si Mbak, mendapat toleransi karena sudah berhasil check-in online.

**Mendengar ini saya langsung memberikan applause meriah**

"Eh, tapi ada lagi yang sama konyolnya Mbak..." sambung Pak Nana tiba-tiba. "Oh, ya, gimana tuh Pak?" tanya saya penasaran.
Begini, suatu kali saya ngantar ibu-ibu ke bandara juga. Begitu masuk mobil, lagi-lagi, seperti biasa saya bertanya,"Maaf Bu, udah dicek? Barangkali ada yang ketinggalan."

Si Ibu menjawab,"Sudah komplit Pak."
Kalau begitu, kita jalan ya Bu...

Di tengah jalan, tiba-tiba ponselnya bunyi. Ternyata anak si Ibu, katanya kopernya ketinggalan! Untung baru dua kilo jalan!

**Dengar ceritanya ini saya langsung tertawa...ooohhh...andai saja dia tahu, kalau aku juga seorang PALUPI! Ahahahahaha...**

Satu kalimat pungkasan Pak Nana yang saya camkan: 

"Nggak ada salahnya melakukan check & re-check. Sepele memang Mbak, tapi kalau tidak dilakukan bisa bikin runyam!"

Kata-kata Pak Nana ini mengingatkan saya pada sebuah ungkapan yang saya kenal melalui lagu yang dinyanyikan oleh grup band asal Australia, favorit saya, Frente:

"The very start of everything hard
Could be the slip of a fingertip..." 
(Song: Lonely by Frente)

Andai Pak Nana tahu, betapa pelupanya saya...Setidaknya malam itu saya diingatkan lagi untuk tidak jump into conclusion tanpa memeriksa kembali apakah kesimpulan saya itu sudah didukung fakta-fakta yang valid...atau saya akan berakhir dengan...merepotkan banyak orang...dan merugikan diri sendiri.




Friday, 10 February 2017

I Will Recognize You


Where I am
Who I am
I’m trapped in this bitterness
A lot of people walked past me
This place is where everyone just walked past me

Where I am
Who are you
Who are you
I can’t hide this happiness
I flipped the world to find you
You who came into my dreams
Where are you

I will find you
I will recognize you
Despite where you are
Despite who you are
I will recognize you

I will remember
I will look at you
Even when you are not here
Even when many sunsets pass by
I won’t forget you
I will cherish everything your words to your expressions

The gloomy sky the silent clouds
I wonder why I am afraid of everything
The time I spend with you is slowing down
I hold your hand to stop it from parting away
I beg for life

I will recognize you
I will remember 
I will look at you
 
Even when you are not here
Even when many sunsets pass by
I won’t forget you

When I hold you tight like this
I keep forgetting about everything
The place I have to return to
I will cherish everything your words to your expressions

I Miss You...



When I look at you
tears keep falling
I don't know why...

Did you go round and round 
to come to me?
I can't avoid this love

I love you... love you...love you...
I call it fate

And I miss you...miss you...
You are my destiny

Why are you looking at me 
with those sad eyes? 
Don't cry...

Did you recognize me right away?
Why did you come to me now?

Even if I'm born again
Wherever you're hiding
I will find you

Let's not be apart now
From my side
Don't leave me
Don't leave me...



Sunday, 15 January 2017

Pelajaran Dari Jagung





Kisah ini saya tulis sebagai kenangan sekaligus terima kasih yang tak terhingga kepada kakak saya dan istrinya, yang mengajarkan saya tentang nilai kesetiaan dan kekuatan doa. Juga untuk sahabat saya Nia, dan keluarga besar terkasih saya di Yogyakarta. Tulisan ini terutama untuk mereka yang sedang merasa gagal atau pernah gagal…


“Pernah gagal?” tanya salah satu petinggi redaksi sebuah harian berbahasa Inggris kepada saya. Duduk di hadapan  para editor senior dan pemimpin redaksi sekaliber mereka awalnya bikin nyali saya menciut. Tetapi, entah bagaimana, begitu mendengar pertanyaan itu, mulut saya menjawab dengan suara lantang, “Ya, saya pernah gagal!” Saya sendiri saja kaget dengar jawaban saya, apalagi mereka... 

Melihat ekspresi mereka saat itu, agaknya saya menjadi orang pertama yang mengakui kegagalan seperti orang yang pamer keberhasilan. 

“Dari semua benih jagung yang saya sebar ke lahan, tidak ada satu pun yang muncul dari tanah dan tumbuh!” lanjut saya, menceritakan penelitian tanaman jagung manis, sebagai syarat kelulusan saya sebagai mahasiswa Pertanian. 

Pernyataan saya disambut hening yang diikuti beberapa kerutan di dahi para pewawancara yang memandang saya dengan penuh selidik. 

Sempat menyesal kenapa mulut ini seperti tidak bisa dikontrol. Jangan-jangan gara-gara ini berkas lamaran saya langsung masuk keranjang sampah! Padahal, ini adalah tahapan akhir dari serangkaian proses penyaringan reporter baru di harian berbahasa Inggris itu.

Namun, saya punya alasan untuk berbangga dengan kegagalan saya. Sebab, fase ini membuat saya belajar hal besar tentang kehidupan, yang akan terus melekat dalam jati diri saya sebagai manusia debu. 

GAGAL TOTAL
Menyandang status sebagai mahasiswa tingkat akhir Fakultas Pertanian dari universitas negeri yang berlokasi di kompleks Bulaksumur, Yogyakarta, kegagalan saya ini aib besar! 

“Woalah, Mbak…kok kados ngaten nggih?” (Duh, Mbak, kok bisa sampai begitu ya?), ungkap para petani di sekitar lahan tanam saya, tertawa prihatin. Sungguh memalukan! Ingin rasanya saat itu wajah saya ikut menghilang seperti benih-benih jagung saya itu. Hikss... 

Gara-garanya adalah, ikut-ikutan beberapa teman seangkatan yang demi mengejar kelulusan, mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN) bersamaan dengan penelitian untuk skripsi. Saya ikut KKN di semester pendek yang lebih singkat, yaitu 3 bulan dari waktu normal 6 bulan. Lokasi KKN juga berdekatan dengan lahan tanam di Bantul. 

Mengandalkan pemikiran bahwa jagung bukan tanaman yang rewel, saya percayakan pengolahan tanah dan pemeliharaannya kepada petani lokal. Saya hanya datang menyebar benih, memberikan perlakuan, dan nantinya melakukan pengukuran terhadap tanaman sampel. Kenyataannya, jangankan bisa melakukan pengkuran tanaman, tumbuh aja enggak! 

Kegagalan ini semakin komplit dengan perolehan nilai KKN yang nggak maksimal. Ketika semua teman saya mayoritas dapat nilai “A”, saya hanya dapat nilai “B”. Konsentrasi saya terbagi-bagi, hingga beberapa program KKN, seperti mengajari ibu-ibu desa membuat nata de coco juga gagal!

Sudah jadi bahan tertawaan petani, penelitian gagal, waktu terbuang, dan nilai KKN tidak maksimal. Semuanya ini membuat mental saya jatuh dan sedikit trauma. Saya malas mengulang penelitian. Takut gagal lagi. Di saat-saat genting seperti inilah, Tuhan mengirimkan sahabat yang nggak hanya menyemangati, tapi juga nekat mengambil aksi sepihak yang memaksa saya untuk bergerak. 

Sahabat dan teman kampus saya itu adalah Nia, putri seorang petani di Bantul. Tahu saya mogok mengulang penelitian, tanpa sepengetahuan saya, dia memesankan lahan baru di kompleks penelitian kampus kami di daerah Sleman. 

“Non, lahan sudah dipesan dan sedang sisipkan untuk ditanami. Lahan itu banyak yang ngantre. Kamu punya jatah waktu 4 bulan,” ujarnya, santai. Info "breaking news" ini cuma bisa bikin saya bengong. Sebab, dengan kebutuhan waktu tiga bulan bagi jagung manis untuk tumbuh hingga panen, maka saya nggak punya pilihan lain, selain harus segera menanam! 

MENABUR DOA
Kali ini, sejak awal, saya tidak menyerahkan penggarapannya pada petani lain, tapi saya kerjakan sendiri dengan bantuan support system, yaitu sahabat dan keluarga besar, para sepupu yang tinggal tak jauh dari lokasi.

Masa menebar benih pun tiba. Hari itu saya dibantu oleh Nia, kakak laki-laki saya, dan kekasihnya, yang sekarang jadi kakak ipar saya.

Bayangan trauma gagal, membuat saya memasukkan setiap benih ke dalam lubang dengan penuh keraguan. Akankan dia tumbuh, atau saya kembali jadi bahan tertawaan. Di tengah itu semua, lamat-lamat saya mendengar suara kakak saya, yang juga sedang memasukkan benih ke dalam lubang. 

“Tuhan, berkati benih-benih ini agar tumbuh. Supaya adikku bisa lulus kuliah dengan nilai bagus, Amin.”

Doa sederhana yang sama saya dengar setiap kali dia memasukkan benih-benih ke dalam lubang. Sebagai bayangan, dengan luasan lahan 800 meter persegi dan jarak tanam 70-75 cm antar barisan dan 20-25 cm dalam barisan, maka ada ratusan lubang yang harus kami isi dengan benih. Tapi, dengan setia, Kakak saya mengulang doa yang sama...

Tanpa sadar, air mata saya berjatuhan. Hati saya campur aduk antara rasa haru dan malu. Terharu, melihat ekspresi sayang kakak saya satu-satunya yang sering saya repotkan itu. Malu, karena saya melupakan satu proses paling fundamental, yaitu doa!

MENUAI KEAJAIBAN
Benar saja, tanaman jagung saya tumbuh begitu subur. Kalau sebelumnya saya jadi bahan tertawaan para petani, kali ini banyak petani berhenti di lahan jagung saya untuk melontarkan kekaguman mereka. 

“Jagung bule”, begitu julukan mereka terhadap tanaman saya. Sebab ukuran pokok tanaman, dari tingginya, diameter batang, dan daunnya, melebihi tanaman jagung kebanyakan. Setiap kali saya mengambil sampel tanaman dari setiap petak untuk mengukur faktor-faktor pertumbuhannya, beberapa petani mengantre untuk mendapatkan sisanya sebagai pakan ternak.

“Sapi-sapi mereka suka sekali makan tanaman jagung dari Mba,” lapor penjaga kawasan lahan penelitian. “Mereka makannya lahap,” lanjut si bapak, sumringah. Menurut mereka itu karena tanaman jagung saya sangat segar, hijau royo-royo, dan ekstra manis buat para sapi! Hahahaha…syukurlah!

Herannya lagi, kalau satu tanaman jagung rata-rata membuahkan dua tongkol, maka tanaman jagung saya ini bisa kmmembuahkan hingga empat tongkol jagung per tanaman! Kalau biasanya panen jagung rata-rata maksimal dua kali, saya bisa panen lebih dari empat kali! Nggak habis-habis! Ukuran tongkol jagung juga lebih besar dari ukuran normal, serta barisan bulir jagungnya terisi sempurna dan rapi.

Rasa-rasanya, hampir semua rumah tetangga di sekeliling rumah Kakek saya kebagian satu tas plastik (ukuran 5 kilo). Kira-kira ada sekitar 20 rumah yang kebagian jatah. Semua memuji jagung yang katanya super manis dan segar itu. 

Kami sendiri di rumah sampai kehabisan ide memasak. Mulai dari dibakar, direbus, disayur, dibuat bakwan jagung… Itu pun masih menyisakan segundukan tinggi jagung manis, yang akhirnya dibeli oleh seorang nenek. Jagung yang totalnya mencapai satu kwintal itu tadinya ingin saya kasih secara gratis, tapi karena katanya untuk dijual lagi di pasar, dia memaksa untuk membelinya. Saya serahkan harga beli kepada si nenek. 

Walau awalnya sempat sungkan, girang juga hati saya mendapat gulungan uang senilai total Rp400.000,00 yang diambil Nenek dari dalam selipan stagenya (kemben kebaya Jawa). Waahh...berbeda sekali sensasi menerima uang dari hasil jerih lelah. 

Terngiang kembali lamat-lamat, doa yang dipanjatkan kakak laki-laki saya saat menaburkan benih jagung ke dalam setiap lubang. Pengalaman ini membuktikan bahwa, “Bukan yang menanam, bukan juga yang menyiram, melainkan Allah yang menumbuhkan.”

"CODA" INDAH DARI TUHAN
Kembali ke awal kisah, sesi wawancara saya. Salah satu dari petinggi lainnya bertanya tentang akhir kisah dari kegagalan saya yang membanggakan itu. “Penelitian saya sukses. Hasil panen meningkat 200% dibanding tanaman kontrol yang tidak mendapat perlakuan. Dan saya lulus dengan nilai skripsi penelitian A,” jawab saya, sumringah. Spontan, mereka bertepuk tangan dan tertawa senang mendengar jawaban saya. 

Seperti sebuah nyanyian, Tuhan memberikan "coda" yang indah pada kisah Saya. Dia mengubahkan keraguan dan kekhawatiran menjadi jalan-Nya menyatakan kekuasaan. Singkat kisah, saya diterima menjadi bagian dari keluarga besar di harian berbahasa Inggris tersebut -- kantor media yang sekaligus menjadi sekolah jurnalistik terbaik yang menghantarkan saya pada perjalanan belasan tahun di dunia media cetak dan online. God is good. Terpujilah nama Tuhan! 



Doa menghadirkan kuasa Tuhan yang tak terbatas atas diri manusia yang terbatas. 
Kekuatan doa sanggup menembus kemustahilan! 



Thursday, 12 January 2017

Mumpum Masih Awal Tahun Baru




Repotnya jadi orang sentimentil! Semua-semua maunya disimpan untuk memorabilia. Mulai dari karcis bioskop, surat-surat lama, kartu ucapan, foto, diary, teropong kaleidoskop dan lain-lain. Beberapa diantaranya saya simpan sejak SD! 

Rasanya, membuang salah satu dari barang-barang itu secara sengaja, bisa membuat memori kita ikut terhapus. Makanya, sedih sekali kalau tiba-tiba saya mengetahui, ada salah satu dari "koleksi" saya yang raib.

Seperti cerita sedih di hari Minggu, 10 Juli 2011. Secarik kertas usang berusia 8,5 tahun yang sudah saya simpan sejak 1 Januari 2003 itu tiba-tiba lenyap! Terakhir kali, saya ingat betul meletakkannya di atas meja belajar. Karena sudah ringkih, banyak bagiannya yang pecah mengikuti alur bekas lipatan, tepiannya juga sudah compang-camping dimakan usia. Makanya, saya berencana untuk melakukan konservasi kecil-kecilan dengan menggunakan selotip bening.

Eh, ditinggal ke gereja, kog pulang-pulang kertas itu raib dari tempatnya. Sudah dicari-sana-sini, bahkan sampai ngoprek keranjang sampah tetangga, tetap ngga ketemu. Ketika tanya Mbok penjaga rumah, dia juga mengaku tidak mengutak-atik apa pun di meja saya. Dan saya percaya, karena mereka ini memang tidak pernah usil seperti itu. Pendek kata, carikan kertas itu lenyap ditelan bumi! Bahkan tidak secuil pun remahan kertas itu tertinggal di atas meja!

Kertas itu berisi 4 permohonan doa yang saya tulis pada pukul 00:00, sesaat memasuki 1 Januari 2003, di rumah Eyang, di Yogyakarta tercinta. Pada waktu itu, saya dan beberapa sepupu perempuan (Hana, Wisma, dan Miranti), punya tradisi tahunan – istilah kami: make a wish – untuk saling bertukar lembar doa. Di kertas itu kami akan menuliskan permohonan kami, untuk didoakan bersama sepanjang tahun 2003. Begitu di penghujung tahun, kami akan berkumpul untuk berefleksi dan mengevaluasi diri, termasuk mengecek jawaban terhadap doa-doa kami. Dalam kesempatan ini, kami bisa melihat bagaimana Tuhan bekerja melalui doa-doa kami. Dua dari empat permohonan doa saya saat memasuki tahun 2003 itu telah dijawab Tuhan, tepat pada waktu-NYA.

Permohonan 1:
Mendoakan rencana pernikahan kakak saya dengan kekasihnya. Setelah 11 tahun melalui proses mengenal dan dikenal, tentunya mereka berdua ingin melanjutkan hubungan kasih ini ke tingkat komitmen yang lebih tinggi. Tetapi, saya memohon agar Tuhan memberikan dia kemandirian finansial dulu sebelum menikah.

Jawaban doa:
Hasilnya positif dan definitif! Tuhan mengabulkan doa kami. Pada Mei 2003, atau 4 bulan kemudian, kakak laki-laki saya diangkat menjadi pegawai tetap di salah satu harian nasional tanah air, untuk pekerjaan yang sudah lama diimpikannya. Dan pada 28 September 2003 mereka berdua menikah. Hebat ya Tuhan itu?? Tepat dan pada waktuNYA! ^^

Permohonan 2:
Saya memohon agar Tuhan memberikan pekerjaan bagi saya yang waktu itu berada di posisi ’pengangguran’ intelektual. Lulus S1, sembari menunggu ’jodoh’ dari sekian banyak lamaran pekerjaan yang saya buat, saya bekerja sebagai tukang warnet di Warnet Planet, dekat IKIP YKPN, Yogyakarta. Job description utamanya: billing dan trouble shouting. Keren kan!

Jawaban doa:
Terkabul! Pada Agustus 2003, atau 7 bulan setelah doa pertama kami panjatkan, saya diterima bekerja di sebuah media cetak nasional berbahasa Inggris di ibu kota. 

Memang, tidak ada yang kebetulan dalam dunia ini, segala sesuatunya telah dirancang sedemikian rupa oleh Sang Empunya Hidup. Pekerjaan sebagai penjaga warnet memiliki andil besar dalam mempersiapkan saya mengikuti rangkaian job test sebagai reporter. Sebab, selama berjam-jam di depan komputer, saya suka mengakses berita di laman harian itu. Karena keseringan, jadi mendapat banyak input kosakota, serta terbiasa dengan style atau gaya penulisannya. Sampai suatu hari, Mba Dian, teman satu kost yang saat itu masih bekerja sebagai sekretaris Bapak Amien Rais, membawa pulang harian langganan bosnya itu dan mengangsurkannya pada saya. "Non, kamu kan hobi bahasa Inggris, coba masukin lamaran ke sini, deh."

Singkat kata, saya memberanikan diri untuk mencoba. Nothing to lose! Berbekal nilai TOEFL ITP dan dua tulisan contoh berbahasa Inggris, yaitu abstrak skripsi yang hanya dua paragraf serta selembar proposal penelitian beasiswa (yang gagal), akhirnya saya dipanggil test ke Jakarta. Saat ujian menulis berita, saya diuntungkan dengan kebiasaan membaca harian itu, sehingga tinggal copy-paste style penulisannya. Memang sudah jalannya saya harus jadi tukang warnet dulu. Sebab di masa itu, akses internet terbilang mahal buat saya, yaitu Rp10.000/jam. Padahal, setelah lulus kuliah, saya gaya-gayaan, berkeras tidak mau menerima uang bulanan dari orang tua, selain biaya sewa kamar kost yang besarnya Rp180.000/bulan. Jadi, biaya hidup sehari-hari, bergantung pada penghasilan jaga warnet. Lumayan, bisa akses gratis internet juga! 

Tepat setahun setelah kelulusan saya pada 19 Agustus 2002, di tanggal yang sama, yaitu 19 Agustus 2003, saya menjalani hari pertama sebagai seorang Reporter di harian The Jakarta Post. Meski sekarang saya tak lagi di sana, tapi di situlah tempat saya, yang lulusan Fakultas Pertanian ini, digembleng menjadi seorang jurnalis.  

Apabila seluruh rangkaian kisah hidup itu diputar kembali, rasanya mata dan pikiran saya sebagai manusia tidak akan sanggup memahami grand design Sang Pencipta. Masih ada doa-doa yang masih menunggu jawab. Semoga, di pasang dan surutnya kehidupan ini, kita tidak putus berharap dan bergantung pada-NYA, hingga pada suatu masa nanti, kita bisa melihat rencana dan penyertaan Tuhan yang indah dalam hidup kita, Amin. 

Pelajaran Dari Jagung

Kisah ini saya tulis sebagai kenangan sekaligus terima kasih yang tak terhingga kepada kakak saya dan istrinya, yang mengajarkan ...