Sunday, 15 January 2017

Belajar Dari Jagung





Kisah ini saya tulis sebagai kenangan sekaligus ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada kakak saya, Teguh dan istrinya Caecilia, yang mengajarkan saya tentang nilai kesetiaan dan kekuatan doa, sahabat saya Kurnia Dwi Lestari, dan keluarga besar terkasih saya di Yogyakarta. Terutama, bagi mereka yang pernah gagal…


“Pernah mengalami kegagalan?” tanya salah satu dari jajaran Board Directors salah satu harian berbahasa Inggris di tanah air pada saya. Duduk di sebuah kursi, di hadapan petinggi media yang hebat ini, nyali saya awalnya sempat ciut. Tetapi, entah kenapa, pertanyaan itu justru menggelorakan semangat di dada saya. Dengan penuh percaya diri, suara lantang, dan nada bangga saya menjawab, “Ya, saya pernah gagal!”

Melihat ekspresi mereka saat itu, agaknya saya menjadi orang pertama yang mengakui kegagalan seperti seseorang yang sedang memamerkan kesuksesan. Namun, saya punya alasan untuk berbangga dengan kegagalan saya. Sebab, fase ini membuat saya belajar hal besar tentang kehidupan, yang akan terus melekat dalam jati diri saya sebagai manusia.

“Dari semua benih jagung yang saya sebar ke lahan, tidak ada satu pun yang muncul dari tanah dan tumbuh!” lanjut saya, menceritakan penelitian tanaman jagung manis, sebagai syarat kelulusan saya sebagai mahasiswa Pertanian. Mendengar kalimat ini, beberapa di antara para pewawancara itu ikut terhenyak dalam duduknya. Mungkin di saat yang sama, mereka berpikiran, jangan-jangan mereka telah salah pilih. Padahal, ini adalah tahapan akhir dari serangkaian proses penyaringan reporter baru di harian berbahasa Inggris itu.

Menyandang status sebagai mahasiswa tingkat akhir dari Fakultas Pertanian dari universitas ternama, seperti Universitas Gadjah Mada, kegagalan saya ini menjadi bahan tertawaan para petani, yang lahannya berada di sekeliling saya. “Woalah, Mbak…kok kados ngaten nggih?” (Duh, Mbak, kok bisa sampai begitu ya?).

Padahal, jagung, adalah salah satu tanaman pertanian yang paling gampang tumbuh dan tidak neko-neko. Dia bisa tumbuh di hampir semua jenis tanah dengan kondisi iklim yang beragam. Bahkan, jika benihnya dilempar begitu saja ke tanah, ia akan tumbuh. Sungguh memalukan! Rasanya, ingin saya tenggelamkan saja wajah saya ke lahan sawah yang kosong melompong itu.

Semuanya bermula dari keinginan mengikuti beberapa teman seangkatan yang demi mengejar kelulusan, membarengi program Kuliah Kerja Nyata (KKN) mereka dengan melakukan penelitian untuk skripsi. Mengajukan KKN di semester pendek yang lebih singkat, yaitu 3 bulan dari waktu normal 6 bulan, saya mengajukan permohonan melakukan KKN di Sanden, Bantul, DIY. Sebab, lokasi KKN ini berdekatan dengan lokasi sawah penelitian saya yang juga di daerah Bantul.

Mengandalkan pemikiran bahwa jagung bukan tanaman yang rewel, saya percayakan pengolahan tanah dan pemeliharaannya kepada petani lokal. Saya hanya datang menyebar benih, memberikan perlakuan, dan nantinya melakukan pengukuran terhadap tanaman sampel. Kenyataannya, jangankan bisa melakukan pengkuran tanaman, tumbuh saja tidak! Ngenes!

Kegagalan ini semakin komplit dengan perolehan nilai KKN yang tidak maksimal. Ketika semua teman saya mayoritas mendapat nilai “A”, saya hanya mendapat nilai “B”, sebab konsentrasi saya terbagi-bagi, hingga beberapa program KKN saya, seperti mengajari ibu-ibu desa membuat nata de coco juga gagal!

KEJUTAN TUHAN
Sudah menjadi bahan tertawaan petani, penelitian gagal, waktu terbuang, dan nilai KKN tidak maksimal. Semuanya ini membuat mental saya jatuh dan sedikit trauma, sehingga saya sempat malas mengulang penelitian. Takut gagal lagi. Di saat-saat genting seperti inilah, Tuhan mengirimkan sahabat-sahabat yang setia mendorong spirit dan mengulurkan tenaga untuk membantu saya. Salah satunya, sahabat saya itu adalah Kurnia, putri seorang petani dari Bantul, dan rekan satu angkatan yang membantu saya sejak mulanya. Tahu saya mogok mengulang penelitian, tanpa sepengetahuan saya, ia memesankan lahan baru di kompleks penelitian fakultas pertanian UGM di Sleman, DIY. 

“Non, lahan sudah dipesan dan dipersiapkan untuk ditanami. Lahan itu banyak yang ngantre. Kamu punya jatah waktu 4 bulan,” ujarnya, santai, membuat saya terbengong-bengong. Sebab, dengan kebutuhan waktu tiga bulan bagi jagung manis untuk tumbuh hingga panen, pernyataannya ini membuat saya tidak punya pilihan lain, selain harus segera menanam! Kali ini, sejak awal, saya tidak menyerahkan penggarapannya pada petani lain, tapi saya kerjakan sendiri dengan bantuan tim pendukung, yaitu, sahabat dan keluarga saya, termasuk para sepupu yang tinggal tak jauh dari lokasi.

Masa menebar benih pun tiba. Hari itu ada Kurnia, kakak laki-laki saya Teguh, dan kekasihnya, Mba Sisil, yang kini menjadi pendamping hidupnya. Mereka datang untuk membantu. Lubang-lubang yang dibuat dengan tongkat kayu telah siap ditanami. Dengan keraguan, saya mulai memasukkan benih jagung, 5 hingga 7 benih setiap lubangnya. Bayangan traumatis bahwa benih ini akan gagal tumbuh seperti pengalaman penelitian sebelumnya menghantui saya. Sampai lamat-lamat dari belakang, saya mendengar suara kakak saya. “Tuhan, berkati benih-benih ini agar tumbuh. Supaya adik saya bisa lulus kuliah dengan nilai baik, Amin.”

Doa yang sama saya dengar setiap kali dia memasukkan benih-benih ke dalam lubang di lahan berukuran 800 meter persegi tiu. Tanpa disadari, air mata saya meleleh. Malu ketahuan, saya menyekanya cepat-cepat dengan tangan. Di hati saya bercampur antara rasa haru dan malu. Haru, melihat ekspresi sayang kakak saya satu-satunya yang sering saya repotkan itu. Malu, karena saya melupakan satu proses paling fundamental, yaitu doa!

Benar saja, tanaman jagung saya tumbuh begitu subur. Kalau sebelumnya saya jadi bahan tertawaan para petani, kali ini banyak petani berhenti di lahan yang saya sewa (disewakan sahabat saya) untuk mengagumi tanaman saya. “Jagung bule”, begitu julukan mereka terhadap tanaman saya. Sebab ukuran pokok tanaman, dari tingginya, diameter batang, dan daunnya, melebihi tanaman jagung kebanyakan. Setiap kali saya mengambil sampel tanaman dari setiap petak untuk mengukur faktor-faktor pertumbuhannya, beberapa petani mengantre untuk mendapatkan sisanya sebagai pakan ternak.

“Sapi-sapi mereka suka sekali makan tanaman jagung dari Mba,” lapor salah satu penjaga kawasan lahan penelitian KP4. Hah, dari mana petani tahu kalau tanaman jagung saya didoyani oleh sapi-sapi mereka. “Biasanya, kalau mereka makan biasa saja, tapi kali ini sapi-sapi itu makannya super lahap,” lanjut si bapak, sumringah. Menurut mereka itu karena tanaman jagung saya sangat segar, hijau royo-royo, dan manis bagi para sapi! Hahahaha…syukurlah!

Tidak itu saja, pada saat mulai panen, tanaman jagung yang rata-rata membuahkan dua tongkol di ketiak daunnya itu, kini membuahkan hingga empat tongkol jagung di setiap tanaman! Kalau biasanya panen jagung rata-rata berlangsung dua kali. Di kasus saya, panen jagung ini berlangsung hingga lebih dari empat kali! Seperti tidak habis-habis! Ukuran tongkol jagung yang lebih besar dari ukuran normal, serta barisan bulir jagung yang sempurna dan rapi.

Rasa-rasanya, hampir semua rumah tetangga di sekeliling rumah si Mbah saya kebagian satu tas plastik besar penuh, sekitar 5 kilo. Kira-kira ada sekitar 20 rumah yang kebagian jatah. Semua memuji jagung yang rasanya super manis dan segar itu. Mulai dari dibakar, direbus, disayur, dibuat bakwan jagung…itu pun masih menyisakan segundukan tinggi jagung manis. Sampai seorang nenek tetangga rumah kemudian menawarkan diri untuk membeli sisa segundukan, yang kira-kira seberat satu kwintal itu.

“Ambil saja Mbah, tidak usah bayar. Saya malah senang, akhirnya jagungnya habis juga,” ujar saya. Tetapi si Mbah menggeleng, ia harus membelinya, karena jagung itu akan dijual kembali olehnya di pasar. Akhirnya, saya pun menerima beberapa lembar uang bernilai total sekitar 400.000 rupiah yang dikeluarkan dari lipatan setagennya (sabuk pengencang dari kain pada kebaya Jawa). Astaga! Saya tidak menyangka ia akan menghargai jagung saya setinggi itu. Itu adalah nilai uang terbesar, hasil jerih payah saya, bahkan lebih besar dari jumlah uang bulanan kiriman orang tua yang sebesar Rp250.000.

Terngiang kembali lamat-lamat, doa yang dipanjatkan kakak laki-laki saya saat menaburkan benih ke dalam setiap lubang di lahan seluas 800 meter persegi itu. Selama ini, saya pikir, saya bisa karena saya, tetapi pengalaman ini dalam perjalanannya menjadi bukti empiris bahwa “Bukan yang menanam, bukan juga yang menyiram, melainkan Allah yang menumbuhkan.”

Kembali kepada wawancara kerja saya. Salah satu dari mereka bertanya tentang akhir kisah dari kegagalan saya yang membanggakan itu. “Penelitian saya sukses. Hasil panen meningkat 200% dibanding tanaman kontrol yang tidak mendapat perlakuan. Dan saya lulus dengan nilai skripsi penelitian A,” ungkap saya, sumringah. Spontan, mereka bertepuk tangan dan tertawa senang mendengar penjelasan saya. Saya pun diterima menjadi bagian dari keluarga besar di harian berbahasa Inggris tersebut, tempat pertama pembelajaran terbaik saya sebagai seorang jurnalis.   



Doa menghadirkan kuasa Tuhan yang tak terbatas atas diri manusia yang terbatas. 
Kekuatan doa sanggup menembus kemustahilan! 



Thursday, 12 January 2017

Mumpum Masih Awal Tahun Baru




Repotnya jadi orang sentimentil! Semua-semua maunya disimpan untuk memorabilia. Mulai dari karcis bioskop, surat-surat lama, kartu ucapan, foto, diary, teropong kaleidoskop dan lain-lain. Beberapa diantaranya saya simpan sejak SD! 

Rasanya, membuang salah satu dari barang-barang itu secara sengaja, bisa membuat memori kita ikut terhapus. Makanya, sedih sekali kalau tiba-tiba saya mengetahui, ada salah satu dari "koleksi" saya yang raib.

Seperti cerita sedih di hari Minggu, 10 Juli 2011. Secarik kertas usang berusia 8,5 tahun yang sudah saya simpan sejak 1 Januari 2003 itu tiba-tiba lenyap! Terakhir kali, saya ingat betul meletakkannya di atas meja belajar. Karena sudah ringkih, banyak bagiannya yang pecah mengikuti alur bekas lipatan, tepiannya juga sudah compang-camping dimakan usia. Makanya, saya berencana untuk melakukan konservasi kecil-kecilan dengan menggunakan selotip bening.

Eh, ditinggal ke gereja, kog pulang-pulang kertas itu raib dari tempatnya. Sudah dicari-sana-sini, bahkan sampai ngoprek keranjang sampah tetangga, tetap ngga ketemu. Ketika tanya Mbok penjaga rumah, dia juga mengaku tidak mengutak-atik apa pun di meja saya. Dan saya percaya, karena mereka ini memang tidak pernah usil seperti itu. Pendek kata, carikan kertas itu lenyap ditelan bumi! Bahkan tidak secuil pun remahan kertas itu tertinggal di atas meja!

Kertas itu berisi 4 permohonan doa yang saya tulis pada pukul 00:00, sesaat memasuki 1 Januari 2003, di rumah Eyang, di Yogyakarta tercinta. Pada waktu itu, saya dan beberapa sepupu perempuan (Hana, Wisma, dan Miranti), punya tradisi tahunan – istilah kami: make a wish – untuk saling bertukar lembar doa. Di kertas itu kami akan menuliskan permohonan kami, untuk didoakan bersama sepanjang tahun 2003. Begitu di penghujung tahun, kami akan berkumpul untuk berefleksi dan mengevaluasi diri, termasuk mengecek jawaban terhadap doa-doa kami. Dalam kesempatan ini, kami bisa melihat bagaimana Tuhan bekerja melalui doa-doa kami. Dua dari empat permohonan doa saya saat memasuki tahun 2003 itu telah dijawab Tuhan, tepat pada waktu-NYA.

Permohonan 1:
Mendoakan rencana pernikahan kakak saya dengan kekasihnya. Setelah 11 tahun melalui proses mengenal dan dikenal, tentunya mereka berdua ingin melanjutkan hubungan kasih ini ke tingkat komitmen yang lebih tinggi. Tetapi, saya memohon agar Tuhan memberikan dia kemandirian finansial dulu sebelum menikah.

Jawaban doa:
Hasilnya positif dan definitif! Tuhan mengabulkan doa kami. Pada Mei 2003, atau 4 bulan kemudian, kakak laki-laki saya diangkat menjadi pegawai tetap di salah satu harian nasional tanah air, untuk pekerjaan yang sudah lama diimpikannya. Dan pada 28 September 2003 mereka berdua menikah. Hebat ya Tuhan itu?? Tepat dan pada waktuNYA! ^^

Permohonan 2:
Saya memohon agar Tuhan memberikan pekerjaan bagi saya yang waktu itu berada di posisi ’pengangguran’ intelektual. Lulus S1, sembari menunggu ’jodoh’ dari sekian banyak lamaran pekerjaan yang saya buat, saya bekerja sebagai tukang warnet di Warnet Planet, dekat IKIP YKPN, Yogyakarta. Job description utamanya: billing dan trouble shouting. Keren kan!

Jawaban doa:
Terkabul! Pada Agustus 2003, atau 7 bulan setelah doa pertama kami panjatkan, saya diterima bekerja di sebuah media cetak nasional berbahasa Inggris di ibu kota. 

Memang, tidak ada yang kebetulan dalam dunia ini, segala sesuatunya telah dirancang sedemikian rupa oleh Sang Empunya Hidup. Pekerjaan sebagai penjaga warnet memiliki andil besar dalam mempersiapkan saya mengikuti rangkaian job test sebagai reporter. Sebab, selama berjam-jam di depan komputer, saya suka mengakses berita di laman harian itu. Karena keseringan, jadi mendapat banyak input kosakota, serta terbiasa dengan style atau gaya penulisannya. Sampai suatu hari, Mba Dian, teman satu kost yang saat itu masih bekerja sebagai sekretaris Bapak Amien Rais, membawa pulang harian langganan bosnya itu dan mengangsurkannya pada saya. "Non, kamu kan hobi bahasa Inggris, coba masukin lamaran ke sini, deh."

Singkat kata, saya memberanikan diri untuk mencoba. Nothing to lose! Berbekal nilai TOEFL ITP dan dua tulisan contoh berbahasa Inggris, yaitu abstrak skripsi yang hanya dua paragraf serta selembar proposal penelitian beasiswa (yang gagal), akhirnya saya dipanggil test ke Jakarta. Saat ujian menulis berita, saya diuntungkan dengan kebiasaan membaca harian itu, sehingga tinggal copy-paste style penulisannya. Memang sudah jalannya saya harus jadi tukang warnet dulu. Sebab di masa itu, akses internet terbilang mahal buat saya, yaitu Rp10.000/jam. Padahal, setelah lulus kuliah, saya gaya-gayaan, berkeras tidak mau menerima uang bulanan dari orang tua, selain biaya sewa kamar kost yang besarnya Rp180.000/bulan. Jadi, biaya hidup sehari-hari, bergantung pada penghasilan jaga warnet. Lumayan, bisa akses gratis internet juga! 

Tepat setahun setelah kelulusan saya pada 19 Agustus 2002, di tanggal yang sama, yaitu 19 Agustus 2003, saya menjalani hari pertama sebagai seorang Reporter di harian The Jakarta Post. Meski sekarang saya tak lagi di sana, tapi di situlah tempat saya, yang lulusan Fakultas Pertanian ini, digembleng menjadi seorang jurnalis.  

Apabila seluruh rangkaian kisah hidup itu diputar kembali, rasanya mata dan pikiran saya sebagai manusia tidak akan sanggup memahami grand design Sang Pencipta. Masih ada doa-doa yang masih menunggu jawab. Semoga, di pasang dan surutnya kehidupan ini, kita tidak putus berharap dan bergantung pada-NYA, hingga pada suatu masa nanti, kita bisa melihat rencana dan penyertaan Tuhan yang indah dalam hidup kita, Amin. 

Wednesday, 11 January 2017

Ketika Kemiskinan Menjadi Komoditas Baru

Adegan film Slumdog Millionaire

Lebaran memang masih jauh, tapi saya teringat dengan sebuah kisah yang pernah mampir dalam kehidupan saya, lima hari menjelang lebaran 2011.

Bus Transjakarta yang mengangkut saya dari Rawamangun tiba di halte Matraman. Seorang kakek berpeci, dengan ransel butut warna hitam, terhuyung-huyung masuk dan duduk tepat di samping saya. Kami bersitatap, dan saling melemparkan senyum.

"Turun mana?" tanya si kakek, yang saya taksir usianya tidak kurang dari 60-an tahun.
"Dukuh Atas, Pak", jawab saya

"Saya ini musafir..." ujar si kakek tiba-tba, sambil menghela nafas panjang...

Melihat mimiknya, dan mendengar ini, saya tiba-tiba seperti menjadi bagian dalam sebuah adegan sinetron atau film. Saya penasaran mengikuti kelanjutan jalan ceritanya...

Si kakek mengelus lambung kiri tas ransel bututnya yang koyak. "Kemarin tas saya dirobek orang, dan dompet saya raib."

Hmmm....urutan skenario yang sesuai harapan...pikir saya dalam hati.

Si kakek menoleh pada saya, "Saya sudah mendapat surat keterangan dari kantor kepolisian. Kalau saja dompet saya tidak hilang, sekarang saya sudah berada di kampung," lanjutnya dengan tatap menerawang ke langit-langit bus Transjakarta. (hmmm...persis adegan sinetron kan??)

Sebenarnya, saya bisa saja ikut-ikutan bergaya sinetron. Misalnya, memegang bahu atau tangan keriput si kakek untuk memberi kekuatan, menghela nafas panjang, dan memanggut-manggutkan kepala, prihatin. Tetapi, untuk saat ini, tanpa sorot kamera dan sutradara, saya memilih untuk mengulas senyum nanggung (dengan tone prihatin, tentunya).

"Maaf, Mba asli orang mana. Kog, logatnya seperti orang Jawa?" tanya si kakek tiba-tiba.

"Oh, ibu saya asli Sleman, Jogjakarta," jawab saya, sambil menebak respons si kakek. Dan benar dugaan saya...

"Ohh....samaaaa...", sahut si kakek, antusias. Matanya berbinar-binar.

Lagi-lagi saya tersenyum...

"Saya sudah berkeliling untuk mencari donatur. Saya hanya kepingin pulang. Pedih rasanya di sini," kata si kakek, sambil memukul-mukul dada. Hmmm...saya berharap ada seorang pencari bakat di bus itu. He'll make a great actor!

Reflek, saya mengarahkan pandang berkeliling, mengamati reaksi para penumpang bus Transjakarta... DINGIN...

"Kalau Mba bisa membantu, saya bersyukur. Tetapi, kalau seandainya tidak bisa, tidak apa-apa," lanjutnya, sembari memandang saya dengan tatap memelas.

Lagi-lagi, saya cuma bisa tersenyum...

"Bapak nanti turun di Dukuh Atas 2 kan? Saya juga turun di situ," jawab saya, sengaja menggantung harapan.

Cepat, saya berusaha melakukan sinkronisasi antara otak dan hati. Ada dua opsi:
1. Beri saja uang sekadarnya.
2. Tidak memberi apa-apa.

W.W.J.D? Wah, gelang yang kerap dikenakan kaum muda Kristiani ini tiba-tiba melintas di benak saya, keputusan macam apa yang akan diambil apabila saya membiarkan Yesus mengambil alih pikiran dan hati saya?

Tak terasa, bus telah tiba di terminal pemberhentian terakhir, Dukuh Atas 2. Saya mulai membaca situasi, membuat skenario, dan sengaja turun paling akhir. Dan tepat seperti skenario, si kakek pun memilih melakukan hal yang sama. Berikutnya pun masih sesuai skenario... Dengan agak tergesa, dia mengeluarkan dua amplop panjang, menunjukkannya pada saya, lalu berkata,"Ini dari Dinas Sosial, dan ini dari kantor kepolisian."

Hati saya miris!! Sedih sekali nasib Bapak tua ini, dan betapa tidak beradabnya orang yang tega mengeruk keuntungan dengan mempekerjakan pria tua ringkih seperti dia.

Sembari berjalan turun, saya tersenyum dan menjajari langkahnya. "Saya tidak tahu apakah uang ini akan cukup membantu Bapak. Doa saya, semoga Bapak dijauhkan dari orang jahat."

"Terima kasih Nak," katanya, sambil menyentuh bahu saya.

Dan tepat seperti dugaan saya, seorang pria muda berjeans hitam dan t-shirt putih yang sedari tadi mengikut si bapak tua kembali naik ke bus yang sama dengannya. Cukup tahu...(kata saya dalam hati)...Semoga ini adalah kali pertama dan terakhir dia 'memanfaatkan' si Bapak tua.

Sebagai catatan, peristiwa seperti ini sudah beberapa kali terjadi pada saya. Tetapi, sampai sekarang, saya belum tahu pasti, apakah respons serupa yang saya berikan adalah yang terbaik bagi yang bersangkutan. 

Kenyataannya, kemiskinan seolah sudah menjadi bisnis menguntungkan di tanah air. Saya ingat cerita Cak To, pengemis sukses asal Surabaya yang mengaku mendapat pemasukan bersih hingga Rp200.000 hingga Rp300.000 dalam sehari, atau Rp6.000.000 hingga Rp9.000.000 per bulannya. Sejak tahun 2000 dia bahkan sudah mengelola 54 anak buah yang siap turun ke lapangan untuk memberikan pemasukan padanya. Dari bisnisnya ini, ia bisa memiliki dua sepeda motor, sebuah mobil CRV keluaran tahun 2004 dan empat rumah! Ini adalah kisah suksesnya di tahun 2010, entah bagaimana kabarnya saat ini. (Baca kisah lengkapnya di sini: Cerita Cak To)

Doa saya, semoga kemiskinan tidak akan pernah menjadi komoditas unggulan di Indonesia yang baru. AMIN.



"...tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan." (Efesus 4:28)

Saturday, 7 January 2017

Tuhan Atas Jerawat & Kutil

Courtesy of flickr.com

"Adakah masalah yang terlalu remeh atau sepele bagi Tuhan?"

Dalam salah satu kebaktian di GKI Layur, Bapak Pendeta (dari gereja lain) bertanya pada jemaat: “Bapak, Ibu, Saudara percaya kalau Tuhan bisa membetulkan kulkas Anda yang rusak?” Beberapa jemaat mulai mengerutkan dahi, saling melemparkan pandang sambil senyam-senyum. Padahal, wajah Pak pendeta tetap serius. Melihat jemaat yang cengar-cengir, ia mengulangi pertanyaannya sambil menambahkan, ”Anda mungkin menjawab, 'bisa' TAPI lewat bantuan tenaga teknisi.”

Sesampainya di rumah, ucapan Pak Pendeta ini terus terngiang di pikiran saya. Pada kenyataannya, jarang ada orang yang benar-benar menjawab dengan yakin “Ya, saya percaya Tuhan bisa membuat lemari pendingin saya berfungsi normal kembali!” Soalnya, akan lebih masuk akal untuk menelepon tenaga teknisi yang jelas-jelas terjangkau dan kasat mata, daripada menghubungi Tuhan. Hal ini pula yang terjadi pada saya ketika harus direpotkan dengan serangan jerawat parah dan kutil di wajah.

Problem jerawat ini terjadi ketika saya masih kuliah di tingkat ke-2. Masa senang-senangnya kuliah dan bergaul. Mejeng sana-mejeng sini, mencari perhatian. Namanya juga anak muda! Kemuculan jerawat yang memenuhi wajah – hampir 85 persen wajah saya tertutup jerawat – ini tentunya menjadi bencana “lokal” yang cukup signifikan buat saya. Yang harusnya bisa tampil keren, jadi tidak pede, apalagi kalau harus berhubungan dengan kakak senior yang jadi idola seluruh angkatan!

Demi mempertahankan eksistensi di pergaulan, otak kiri saya langsung berputar mencari cara tercepat untuk mengatasi masalah ini. Semua obat hasil rekomendasi teman sudah saya coba. Mulai dari obat dempul, jamu jawa, sampai sabun khusus wajah yang mengandung minyak ikan hiu alias squalan (mudah-mudahan pejuang Greenpeace memaafkan saya). Gara-gara ini saya sampai rela makan sehari dua kali untuk mengirit uang kiriman orang tua yang tersedot untuk biaya. Apalagi, ketika seorang teman menyarankan untuk ikutan terapi kulit di salon-salon kecantikan, yang katanya, paling terkemuka di Yogyakarta. Bukannya sembuh, jerawat malah makin parah!

Di tengah keputusasaan ini, saya mulai berteriak kepada Tuhan, Why God, why?? Lucunya, setelah berteriak seperti itu di depan cermin, saya jadi malu sendiri. Kok, baru sekarang nanya ke Tuhan? Ke mana ajaa??? Giliran sudah kepepet, baru deh, merengek-rengek sama Tuhan. Akhirnya, dengan sedikit malu, saya khusus berdoa agar Tuhan menuntun saya untuk menemukan obat jerawat yang tepat. Dan Dia membantu saya dengan hanya mengarahkan kedua mata saya hanya dan hanya pada sebotol obat jerawat di antara belasan pilihan lain yang berjajar di sekitarnya.

Mungkin cerita saya ini terdengar absurd, tapi percayalah, benar-benar seperti itulah kejadiannya. Sebuah pilihan yang sebelumnya tidak pernah terlintas di kepala saya. Obat ini dijual pasaran, dan tidak perlu resep dokter untuk menebusnya. Harganya juga relatif terjangkau, di masa itu hanya delapan ribu rupiah saja. Tetapi, hanya dalam waktu kurang dari 2 minggu, jerawat yang selama tiga bulan lebih bersarang di wajah saya lenyap beserta jejak-jejaknya! Coba sejak awal saya bertanya pada Tuhan, saya tidak perlu keluar uang banyak untuk berobat di salon kecantikan yang ternyata tidak menyembuhkan!

Belum lama ini, saya punya pengalaman yang sama dengan masalah kutil di wajah. Kutil ini makin besar dan menghitam. Teman saya merekomendasikan untuk melakukan operasi di dokter kulit langganannya. Biayanya memang tidak sedikit, tapi saya lebih takut pada proses operasinya sendiri. Soalnya, letak kutil ini di antara batang hidung dan mata. Padahal, di daerah mata banyak syaraf-syaraf halus. Belajar dari pengalaman lalu, akhirnya saya memutuskan untuk mendoakan kutil saya ini. Dan memohon agar Tuhan bekerja melalui obat jerawat yang saya miliki, sehingga kutil ini bisa hilang.

Sama seperti dulu, olesan obat yang disertai doa ini berhasil melenyapkan kutil yang tadinya sempat sebesar biji kacang hijau dan menghitam. Sekarang, saya tidak bisa menemukan jejaknya! Mendengar cerita saya, salah seorang teman gereja yang memiliki masalah sama, tertarik mempraktikkan cara ini. “Benar lho, kekuatan doa itu manjur! Sekarang kutilku sembuh dan hilang!” katanya pada saya suatu hari.

Sebelum salah sangka, sharing ini sama sekali tidak bertujuan untuk mengesampingkan bantuan medis. Atau menegasikan sama sekali akal budi manusia yang dikaruniakan oleh Tuhan. Sama sekali tidak. Sebaliknya, semua pengalaman ini merupakan gambaran dari partnership harmoni antara manusia dan Penciptanya. Iman saya makin diperkuat, bahwa Tuhan bekerja secara nyata dalam kehidupan kita. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Tuhan, Selama itu menyangkut hidup Anda dan saya, makhluk ciptaan-NYA yang menjadi biji mata-NYA, maka tidak ada satu hal yang terlalu remeh bagi Tuhan. 

Allah tidak hanya peduli pada masalah-masalah atau hal-hal yang besar dalam hidup kita, tapi DIA juga Allah bagi hal-hal yang kecil, yang mungkin dipandang sebelah mata oleh manusia. Sebelum heboh curhat dan cari solusi ke sana ke mari, dan kemudian berakhir menjadi bahan gosip dan tertawaan, lebih baik berlari pada Tuhan dan bertanya pada-NYA. Libatkan Tuhan sejak sebelum mengambil keputusan. Percayalah, Dia hanya sejauh doa. Selamat bertanya pada Tuhan dan menemukan solusi dari-NYA. Selamat mencoba! ;)
  

Thursday, 5 January 2017

“┼aku┼”



"Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?"
Matius 6:27

Setiap orang memiliki tanggal-tanggal penting dalam hidupnya. Entah itu hari kelahiran, pertama kali diterima bekerja, tanggal pernikahan, dan masih banyak lagi. Buat saya, hari bersejarah itu terjadi di awal masa krisis moneter 1998. Waktu itu saya tengah memasuki minggu ujian semesteran menuju tahun ke-2 perkuliahan di salah satu universitas negeri di Yogyakarta. 

Kisah bermula dengan sebuah teriakan histeris dari arah kamar mandi sebuah kos-kosan. Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka, dan seorang wanita berlari tergopoh-gopoh dengan rambut basah dan sisa busa syampo menempel di sana sini. “Gila! Ujian kan harusnya jam 9 pagi, bukan 11 siang,” teriaknya sambil berlari menuju kamar. Sementara itu, jam di atas meja sudah menunjukkan 30 menit lewatnya dari pukul 9.00 WIB!

Ya..ya..wanita malang itu adalah saya. Nggak lucu kalau setelah mati-matian belajar semalaman (ehem...sistem kebut semalam), tiba-tiba di hari “H” saya tidak maksimal mengerjakan ujian gara-gara kehilangan waktu! Dengan gerakan super kilat saya berganti pakaian, dan dengan rambut basah yang belum disisir, saya lari pontang panting tanpa henti menuju kampus yang berjarak sekitar 100 meter dari tempat kos. Tak peduli apa komentar orang di sepanjang jalan yang saya lewati. Sebaliknya, saya terus merutuki diri, kenapa harus pakai acara salah membaca jadwal segala!

Kehadiran saya yang berisik di ruang ujian memecah keheningan. Sejurus kemudian semua mata memandang ke arah saya dengan ekspresi antara takjub, sebal, dan kasihan. Saya sendiri tak kalah heran, sebab di antara semua wajah tersebut tak ada satu pun teman seangkatan saya.

Menyadari kesalahan ini, saya langsung memutar badan, menutup pintu di belakang saya dan berlari ke papan jadwal. Astaga! Pantas saja, ternyata ruang tadi masih dipakai oleh para senior. Sementara, jadwal ujian saya memang benar di pukul 11.00 WIB, bukan pukul 9.00 WIB. Kacau!! Begini akibatnya, kalau serba grabak-grubuk.

Setelah mempermalukan diri sendiri, setidaknya sekarang saya bisa bernapas lega. Saya sedang berjalan dengan tenang menyusuri koridor yang sepi, ketika seorang mahasiswi kakak angkatan yang berjalan berlawanan arah tiba-tiba membalikkan badannya dan berjalan cepat menjauh. Sekali dia menoleh ke belakang dengan tatap aneh. Berusaha sopan, saya melambaikan tangan. Kali ini ia malah berlari!

Hmmmm….aneh sekali! Tak habis pikir saya dibuatnya. Wajahnya begitu ketakutan seperti baru saja melihat hantu. Sampai kemudian saya tak sengaja melihat bayangan sendiri di cermin toilet, barulah saya paham alasan ketakutannya. Penampilan saya seperti orang gila! Rambut saya yang sepanjang pinggang basah kuyub, dan ada beberapa busa sampo di atasnya, bahkan di telinga dan dahi saya!

Barulah saya ingat bahwa pagi ini, karena kaget saya berlari  begitu saja tanpa mempedulikan apapun karena takut terlambat ujian. Melihat penampilan ini saya tertawa terpingkal-pingkal seorang diri. Lagi-lagi, saya membuat seorang mahasiswi urung masuk toilet, dan balik kanan dengan langkah cepat. Ulahnya ini makin membuat saya tertawa sampai menangis. Antara jengkel, merasa konyol, dan mengasihani diri!

Yaa..tahun-tahun krisis moneter ini menjadi tahun yang terhitung berat bagi saya. Tuntutan tugas perkuliahan mahasiswi eksakta yang melimpah, bayangan masa depan suram di era krisis ekonomi negara, ketakutan gagal memberikan performa akademis yang bisa menjadi bekal bersaing di ketatnya perebutan lapangan pekerjaan, membuat saya dibayangi rasa takut dan merasa tertekan. Ditambah lagi ada problem masalah keluarga. Saya mudah hilang fokus, dan sering keteteran. Berujung pada berbagai kekonyolan diri yang berpotensi memorakporandakan masa depan saya, persis seperti kejadian di hari itu.

Setelah menata diri kembali, membenahi penampilan, saya duduk di pojok depan Perpustakaan kampus. Di tengah termangu dengan kenyataan hidup, saya dikagetkan oleh tepukan di bahu dari Ronald, teman saya seangkatan dari program studi yang berbeda. “Nona, kenapa wajah murung dan bengong begitu? Tra bae,” katanya dengan logat kental Ambon. Dahinya berkerut dan telunjuknya bergoyang ke kanan ke kiri sebagai tanda tidak. Saya hanya bisa tersenyum malu.

Sejurus kemudian Ronald duduk di samping saya, mengeluarkan selembar kertas dan pena. Sambil menggoreskan sesuatu di atasnya, ia bertanya pada saya. “Kamu tahu apa arti namamu?”

Kaget ditanya begitu, saya menjawab sekenanya. “Nama dari alkitab,” ucap saya. Naomi, seorang wanita sedih yang minta dirinya dipanggil “Mara” atau “pahit”, karena hidupnya penuh kegetiran. Suami dan kedua putranya meninggal tanpa sempat meneruskan garis keturunan.

“Ah, tidak Nona…Naomi adalah wanita Ibrani pertama yang melakukan perjalanan antar negara tanpa didampingi pria di masanya! Dia wanita kuat, tegar, dan tidak mengenal takut,” koreksi Ronald, membungkam saya. Saya melihat ke arah kertas, di atasnya ada sebaris kata. Ronald meminta saya membaca tulisannya itu. “Aku,” baca saya. Dia hanya mengangguk sambil mengulas senyuman.

Sejurus kemudian, ia menambahkan simbol yang sepintas berbentuk antara tanda plus atau huruf T kecil (t). Kembali, ia meminta saya membaca. Tapi, entah kenapa, otak saya seperti beku dan tidak paham apa maksud Ronald dan apa makna kata yang ia goreskan di kertas itu. Setelah beberapa kali menebak dan salah, Ronald membukakan mata saya, bahwa kata sederhana yang ia tuliskan itu jika dibaca adalah “aku┼”, (takut)! Ah! Betapa tidak fokusnya saya!

Ronald kemudian berujar, “Di dalam rasa takutmu, ada penjagaan Tuhan,” katanya sambil melingkari dua huruf “t” yang mengapit kata "aku" dan yang rupanya juga mewakili simbol salib. Melihat kedua mata saya berkaca-kaca, Ronald kembali menepuk pundak saya sambil berkata, “Ingat ini setiap kali Nona merasa takut, dan jangan takut lagi.” Dengan tersenyum, ia berpamitan untuk bersiap menuju ruang ujian, meninggalkan saya dalam permenungan. Hari itu, Tuhan begitu nyata bagi saya. Terima kasih sobat, di manapun engkau berada saat ini. Tuhan memberkatimu!

Wednesday, 4 January 2017

Menunggu Cinta


Pokoknya sedih banget kalau ada orang yang belum pernah merasakan serunya jatuh cinta! Ibarat kata, melihat kelebat bayangan si dia saja jantung rasanya seperti ingin melompat dari biliknya! Dan begitu berhadapan muka, kita bisa merasakan sensasi aneh, seperti ada belasan kupu-kupu beterbangan, menggelitiki dinding perut.
Ooh...jadi begitu ya rasanya jatuh cinta? Tanya saya dalam hati sambil menutup novel romantika mendayu-dayu yang sedang saya baca. Begitu sempurna, dan begitu tidak masuk akal! Andai semua kisah cinta berakhir seperti Cinderella atau Putri Salju, pasti tidak akan ada klub JOJOBA (jomblo-jomblo bahagia) yang dibalik tawa, menyimpan kesedihan sekaligus kerinduan mendalam akan hadirnya sosok soulmate atau pasangan hidup dalam kehidupan mereka.
“Kapaaan???”
Oh, Noo...! Pertanyaan penuh arti yang diikuti dengan kerlingan mata ini semakin sering menghampiri saya. Semua variasi jawaban sudah pernah saya coba. Mulai dari yang paling populer, seperti “A.S.A.P” (As Soon As Possible), “Tunggu tanggal mainnya”, “May...be yes, maybe no!”, sampai akhirnya saya hanya bisa tersenyum (semanis mungkin) karena kehabisan ide! Terserah bagaimana mereka memaknai arti di balik senyum itu, saya pasrah saja! Hahaha...
Bicara masalah pasangan hidup atau soulmate, saya jadi teringat pada Susan, sahabat saya semasa kuliah di Jogja. Sebagai sesama perantauan, kami saling menjaga. Ketika saya sakit, ia merombak kamar kostnya yang berukuran 3x3,5 meter itu menjadi kamar pesakitan. Susan bahkan rela bangun lebih awal untuk memasak sarapan buat saya sebelum berangkat kuliah. Tepatlah ungkapan bijak Salomo dalam Amsal 17:17, bahwa “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.”  
Tapi, sempat suatu kali saya protes besar-besaran kepada Tuhan. Hal ini berkaitan dengan Susan. Saya merasa bahwa Tuhan telah memperlakukan sahabat saya itu dengan tidak adil. Harusnya, Susan bisa jadi manajer public relations yang sukses, bukan penjaga toko kelontong di tengah pasar yang becek dan amis saat musim hujan, dan berdebu di musim kemarau. Dia harusnya berada dalam lingkungan pergaulan orang-orang hebat, dan bukan dikelilingi oleh kuli panggul atau kuda-kuda liar yang berlarian di bukit.
Memang, di keluarganya, prestasi akademik Susan tidak segemilang sang kakak yang bisa menyabet predikat memuaskan di dua universitas negeri ternama di Bandung dalam waktu yang hampir bersamaan. Meskipun begitu, Tuhan membekali Susan dengan kemampuan interpersonal yang menonjol. Kepandaiannya dalam berkomunikasi dan pembawaannya yang menarik membuatnya banyak dikelilingi oleh orang-orang. Ia juga tidak pernah membeda-bedakan, dan selalu baik, ramah dan tulus kepada semua orang.
Tapi kenyataan berbicara lain. Ia harus rela menelan mimpi dan idealismenya menjadi wanita karier dan pulang ke Bima, kota kecil di sudut provinsi NTB. Setelan kerjanya berganti dengan pasangan kaos dan celana kulot. Dari ruang ber-AC, kini Susan duduk di antara jejalan barang-barang kelontong di tengah pasar. Hawa pengap, debu dan bau tidak sedap yang melayang-layang menjadi makanan sehari-harinya. Tidak pernah lagi tercium wangi parfum Channel atau Kenzo yang dipakai teman-teman atau para kliennya. Alunan lembut musik jazz yang dulu menjadi makanan sehari-hari, kini berganti menjadi suara kemeresek radio dangdut bervolume keras dari toko bangunan reot di samping toko orang tuanya.
Tentu saja kenyataan ini sangat mengusik saya. Sebagai sahabat, saya berusaha sekuat tenaga untuk “memperbaiki nasibnya”. Entah itu lewat serbuan kata-kata penuh motivasi atau berbagai tawaran kesempatan kerja di kota besar yang bisa dicobanya. Tapi hasilnya nihil! Ritme kehidupan desa yang lambat kembali menenggelamkannya dalam kelelahan dan keputusasaan. 
Saya gagal “menyelamatkan” situasi sahabat saya. Setidaknya, itulah yang saya kira. Dan hal ini menambah kekecewaan saya kepada Tuhan, yang saya anggap tidak adil. Tidak adil karena telah membiarkan sahabat saya yang luar biasa baik itu terpuruk dalam nasib sedemikian rupa. Hingga suatu kali jantung saya serasa hampir copot mendengar sebuah berita dari salah satu teman kami di Jogja. 
“Eh tau nggak, Oktober nanti Susan merit! ” ujar teman saya itu lewat telepon.  
“Masa sih?” tanya saya dengan nada tidak percaya.
“Iya! Calonnya dari Australia dan keren sekali!”, tambah teman saya menggebu-gebu. “Setelah nikah, dia diboyog suaminya ke Bali. Mereka punya usaha restoran besar di sana!” lanjut teman saya.
Beberapa detik setelah mendengar kabar ini, hati dan pikiran saya sempat mengalami ketidakkonsistenan. Di samping luapan rasa bahagia, ada juga sebersit rasa iri menyelinap di hati. Kog bisa siih...?? Rasanya baru kemarin saya mendengar keluh kesahnya tentang hidup terkungkung di kota terpencil, jauh dari peradaban. Tapi bagaimana ceritanya, seorang pria tampan asal Australia menemukan Susan diantara tumpukan barang-barang kelontong yang dijual di toko ayahnya? Saya tidak habis pikir!
Dulu, saya sering merasa prihatin dengan nasib sahabat saya itu. Di saat Susan heboh bercerita tentang suara burung hantu yang sering membuat tidur malamnya tersiksa, saya sedang repot menyiapkan bahan-bahan untuk rapat redaksi. Dan di saat ia sedang bosan melangut, menunggu para pembeli mampir ke toko kelontongnya, saya tengah berlari-lari mengejar nara sumber untuk berita utama di halaman media tempat saya bekerja.
Kondisi saat ini berbalik 180 derajat! Di saat saya sedang frustasi mengejar deadline artikel, Susan sedang asyik bersantai di teras rumahnya yang menghadap ke pantai berpasir putih dan birunya laut Pulau Dewata Bali. Dan ketika saya masih bertanya-tanya tentang pasangan hidup, Susan sedang bercengkrama hangat dengan suami tercintanya sambil menantikan lahirnya buah hati mereka.
Betapa hal-hal yang kami anggap buruk dan sial, kini telah berbalik menjadi kebaikan dan berkat yang manis. Dengan kenyataan seperti ini, saya jadi berpikir-pikir, apa jadinya kalau dulu Susan tetap berkeras merantau, mengikuti desakan saya yang sok tahu. Apa yang saya pikir terbaik untuk sahabat saya itu, ternyata berpotensial mengacaukan masa depan Susan yang telah didesain dengan begitu unik oleh Tuhan. Penuh kejutan dan indah!
“Suka duka dipakaiNya untuk kebaikanmu”. Potongan syair lagu pujian NKB ini mengingatkan saya betapa kuasa Tuhan bekerja secara bebas dalam otoritas dan kekayaan kasih karunia-Nya. “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” (Yesaya 55:8,9)
Di atas ambang batas pikiran dan pengharapan manusia, demikian lah karya-Nya. Tetapi seperti ada tertulis: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia." (1 Korintus 2:9).

Jadi, kalau Tuhan berhasil menuntun seorang ‘kesatria berkuda putih’ dari tanah seberang lautan untuk bertemu dengan sahabat saya Susan yang tinggal nun jauh di perbukitan Bima, NTB. Masa iya, Dia gagal menuntun seseorang yang tepat, yang memang dipersiapkan secara khusus bagi Anda dan saya? Selamat menantikan kejutan Tuhan! 



**Tulisan ini pernah dimuat di Buletin Cermin GKI Layur, edisi Januari 2010

Belajar Dari Jagung

Kisah ini saya tulis sebagai kenangan sekaligus ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada kakak saya, Teguh dan istrinya Caec...