Wednesday, 11 January 2017

Ketika Kemiskinan Menjadi Komoditas Baru

Adegan film Slumdog Millionaire

Lebaran memang masih jauh, tapi saya teringat dengan sebuah kisah yang pernah mampir dalam kehidupan saya, lima hari menjelang lebaran 2011.

Bus Transjakarta yang mengangkut saya dari Rawamangun tiba di halte Matraman. Seorang kakek berpeci, dengan ransel butut warna hitam, terhuyung-huyung masuk dan duduk tepat di samping saya. Kami bersitatap, dan saling melemparkan senyum.

"Turun mana?" tanya si kakek, yang saya taksir usianya tidak kurang dari 60-an tahun.
"Dukuh Atas, Pak", jawab saya

"Saya ini musafir..." ujar si kakek tiba-tba, sambil menghela nafas panjang...

Melihat mimiknya, dan mendengar ini, saya tiba-tiba seperti menjadi bagian dalam sebuah adegan sinetron atau film. Saya penasaran mengikuti kelanjutan jalan ceritanya...

Si kakek mengelus lambung kiri tas ransel bututnya yang koyak. "Kemarin tas saya dirobek orang, dan dompet saya raib."

Hmmm....urutan skenario yang sesuai harapan...pikir saya dalam hati.

Si kakek menoleh pada saya, "Saya sudah mendapat surat keterangan dari kantor kepolisian. Kalau saja dompet saya tidak hilang, sekarang saya sudah berada di kampung," lanjutnya dengan tatap menerawang ke langit-langit bus Transjakarta. (hmmm...persis adegan sinetron kan??)

Sebenarnya, saya bisa saja ikut-ikutan bergaya sinetron. Misalnya, memegang bahu atau tangan keriput si kakek untuk memberi kekuatan, menghela nafas panjang, dan memanggut-manggutkan kepala, prihatin. Tetapi, untuk saat ini, tanpa sorot kamera dan sutradara, saya memilih untuk mengulas senyum nanggung (dengan tone prihatin, tentunya).

"Maaf, Mba asli orang mana. Kog, logatnya seperti orang Jawa?" tanya si kakek tiba-tiba.

"Oh, ibu saya asli Sleman, Jogjakarta," jawab saya, sambil menebak respons si kakek. Dan benar dugaan saya...

"Ohh....samaaaa...", sahut si kakek, antusias. Matanya berbinar-binar.

Lagi-lagi saya tersenyum...

"Saya sudah berkeliling untuk mencari donatur. Saya hanya kepingin pulang. Pedih rasanya di sini," kata si kakek, sambil memukul-mukul dada. Hmmm...saya berharap ada seorang pencari bakat di bus itu. He'll make a great actor!

Reflek, saya mengarahkan pandang berkeliling, mengamati reaksi para penumpang bus Transjakarta... DINGIN...

"Kalau Mba bisa membantu, saya bersyukur. Tetapi, kalau seandainya tidak bisa, tidak apa-apa," lanjutnya, sembari memandang saya dengan tatap memelas.

Lagi-lagi, saya cuma bisa tersenyum...

"Bapak nanti turun di Dukuh Atas 2 kan? Saya juga turun di situ," jawab saya, sengaja menggantung harapan.

Cepat, saya berusaha melakukan sinkronisasi antara otak dan hati. Ada dua opsi:
1. Beri saja uang sekadarnya.
2. Tidak memberi apa-apa.

W.W.J.D? Wah, gelang yang kerap dikenakan kaum muda Kristiani ini tiba-tiba melintas di benak saya, keputusan macam apa yang akan diambil apabila saya membiarkan Yesus mengambil alih pikiran dan hati saya?

Tak terasa, bus telah tiba di terminal pemberhentian terakhir, Dukuh Atas 2. Saya mulai membaca situasi, membuat skenario, dan sengaja turun paling akhir. Dan tepat seperti skenario, si kakek pun memilih melakukan hal yang sama. Berikutnya pun masih sesuai skenario... Dengan agak tergesa, dia mengeluarkan dua amplop panjang, menunjukkannya pada saya, lalu berkata,"Ini dari Dinas Sosial, dan ini dari kantor kepolisian."

Hati saya miris!! Sedih sekali nasib Bapak tua ini, dan betapa tidak beradabnya orang yang tega mengeruk keuntungan dengan mempekerjakan pria tua ringkih seperti dia.

Sembari berjalan turun, saya tersenyum dan menjajari langkahnya. "Saya tidak tahu apakah uang ini akan cukup membantu Bapak. Doa saya, semoga Bapak dijauhkan dari orang jahat."

"Terima kasih Nak," katanya, sambil menyentuh bahu saya.

Dan tepat seperti dugaan saya, seorang pria muda berjeans hitam dan t-shirt putih yang sedari tadi mengikut si bapak tua kembali naik ke bus yang sama dengannya. Cukup tahu...(kata saya dalam hati)...Semoga ini adalah kali pertama dan terakhir dia 'memanfaatkan' si Bapak tua.

Sebagai catatan, peristiwa seperti ini sudah beberapa kali terjadi pada saya. Tetapi, sampai sekarang, saya belum tahu pasti, apakah respons serupa yang saya berikan adalah yang terbaik bagi yang bersangkutan. 

Kenyataannya, kemiskinan seolah sudah menjadi bisnis menguntungkan di tanah air. Saya ingat cerita Cak To, pengemis sukses asal Surabaya yang mengaku mendapat pemasukan bersih hingga Rp200.000 hingga Rp300.000 dalam sehari, atau Rp6.000.000 hingga Rp9.000.000 per bulannya. Sejak tahun 2000 dia bahkan sudah mengelola 54 anak buah yang siap turun ke lapangan untuk memberikan pemasukan padanya. Dari bisnisnya ini, ia bisa memiliki dua sepeda motor, sebuah mobil CRV keluaran tahun 2004 dan empat rumah! Ini adalah kisah suksesnya di tahun 2010, entah bagaimana kabarnya saat ini. (Baca kisah lengkapnya di sini: Cerita Cak To)

Doa saya, semoga kemiskinan tidak akan pernah menjadi komoditas unggulan di Indonesia yang baru. AMIN.



"...tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan." (Efesus 4:28)

No comments:

Post a Comment

Belajar Dari Jagung

Kisah ini saya tulis sebagai kenangan sekaligus ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada kakak saya, Teguh dan istrinya Caec...